Wisata Alam Sapo Juma Semakin Menarik, Ada Listrik di Tengah Hutan

62

Beritaindonesiasatu, Karo – Bertahun-tahun menjalankan operasional tanpa aliran listrik, Sapo Juma hanya dapat dinikmati dalam gelap di malam hari. Tapi sejak pertengahan 2019 lalu, gemerlap lampu di malam hari yang muncul dari tengah hutan Sapo Juma, membuat siapapun penasaran mendatanginya.Senin (01/03/2021).

Sapo Juma merupakan salah satu destinasi wisata di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di destinasi wisata alam ini, pengelola menyediakan berbagai sarana wisata seperti homestay, area berkemah, dan restoran.

Berlokasi tak jauh dari air terjun populer di Sumut, Sipiso-piso, Sapo Juma berada di ketinggian dimana pengunjungnya bisa menikmati pemandangan Danau Toba dan desa-desa yang berada di sekitarnya.

Destinasi ini berada satu kawasan dengan Gajah Bobok yang populer sebagai tujuan anak muda untuk berkemah. Saat memasuki kawasan ini masyarakat disajikan pemandangan hamparan ladang dan hijaunya hutan. Dengan jalan yang mulus, hanya butuh waktu sekitar 10 menit dari area retribusi untuk sampai di homestay yang sudah tersertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.

“Sejak listrik masuk hampir dua tahun belakangan, Sapo Juma jadi bisa bersinar saat malam karena listrik dari PLN sudah masuk. Banyak yang heran ada lampu bagus di tengah hutan,” kata penanggungjawab Sapo Juma, Iin,

Ia mengatakan keberadaan listrik menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sapo Juma menjadi semakin menarik perhatian untuk didatagi para pelancong.

“Banyak tamu yang berkunjung karena tertarik dengan cahaya lampu dari atas sini (tengah hutan). Misalnya mereka di Danau Toba, mereka lihat di atas sini ada lampu yang bagus, jadi keesokannya mereka datang ke sini,” kata Iin.

Sebelum adanya aliran listrik, pengelola objek wisata ini memanfaatkan panel surya dan generator sebagai sumber energi. Hal ini membuat kegiatan menjadi sangat terbatas. Lampu hanya menyala mulai jam 18.00 hingga 22.00 WIB.

“Kita selalu mengumumkan kepada tamu yang akan menginap bahwa jam sepuluh sudah nggak ada lampu lagi, jadi tamu berfikir ulang untuk menginap. Apalagi yang punya bayi atau lansia pasti akan batal menginap di tempat kami,” jelasnya.

Dikatakannya, dengan memanfaatkan aliran listrik dari PT PLN (persero), biaya operasionalnya jadi lebih ringan. Jika dibandingkan dengan penggunaan generator, pihaknya bisa menghemat 50 persen biaya operasional.

“Setiap minggu kami belanja bahan bakar minyak sekitar Rp 600 ribu. Selain itu jika menggunakan genset (generator set) kami juga harus mengeluarkan biaya maintanance setiap bulan. Apalagi pemeliharaan genset itu kan ribet. Meski ada beberapa buah generator kan tetap dipakai terus, jadi ya sering rusak, sering bawa ke bengkel,” katanya.

Selain itu suasana yang dihadirkan juga jadi lebih tenang dan terhindar dari kebisingan suara generator. Risiko kebakaran dari generator juga tak ada lagi.

“Meski ada energi dari genset dan panel surya, pengunaannya kan terbatas. Sedangkan listrik kapan saja kita perlu bisa. Apalagi sekarang mati lampu juga sangat jarang ya, jadi genset sangat jarang digunakan sekarang,” katanya.

Iin menceritakan, sebelumnya pihaknya sudah melakukan upaya agar jaringan listrik bisa masuk ke lokasi ini. Pihaknya juga pernah mendapat tawaran dari oknum untuk membeli tiang listrik sendiri dengan biaya yang harus dikeluarkan berkisar ratusan juta rupiah.

“Tapi tertahan terus, karena memang gak murah kan. Lalu suatu hari ada tamu dari PLN yang datang dan mereka kaget karena tempat ini bagus, tapi belum ada listrik. Dia meminta kami untuk membuat pegajuan permohonan listrik dan langsung ditindaklanjuti,” katanya.

Prosesnya pun tak lama, Juli 2019 mulai dari pemasangan tiang. Tak sampai satu bulan listrik sudah bisa dinikmati.

“Ini kami hanya bayar biaya pendaftaran. Jadi enggak seribet yang kita bayangkan, asal ketemu orang yang tepat. Pelayananya bagus, jadi kalau seandainya ada destinasi wisata yang belum teraliri listrik langsung saja kunjungi PLN,” terangnya.

Ia mengatakan sejak ada listrik, setiap akhir pekan pasti kamar selalu terisi. Fasilitas yang ditawarkan kepada pengunjung juga bisa bertambah, seperti tersedianya air panas, wifi, hingga tamu bisa masak sendiri.

“Di sini kan memang konsepnya liburan keluarga jadi mereka sudah bisa bawa alat penanak nasi. Dengan adanya listrik ini juga jadi bisa lebih menikmati Danau Toba. Semenjak pandemi wisata outdoor seperti Sapo Juma ini juga makin diminati. Tamu yang menginap dengan jangka waktu yang lebih lama juga semakin banyak,” katanya.

Setelah ada listrik, untuk mendapatkan air juga tak lagi harus menggunakan mesin. Dulu, kata Iin setiap butuh air harus pasang mesin dan itu memerlukan bahan bakar juga.

“Karena sudah ada listrik, tamu mau karaoke sampai jam berapapun bisa asal tidak menganggu tamu lain. Saat pandemi Covid-19, banyak tamu juga yang pakai lampu anti virus, jadi kalau enggak ada listrik mereka mau pakai gimana kan. Sekarang sepanjang jalan ini juga sudah ada beberapa penginapan yang sedang dibangun karena listrik sudah masuk,” katanya.

Seorang pengunjung Sapo Juma asal Kecamatan Medan Helvetia, Liska mengaku, ia sudah mengunjungi objek wisata ini sebanyak tiga kali. Meski tidak pernah menginap, ia selalu menyukai objek wisata ini karena suasananya yang tenang dan udara yang segar.

“Dulu pertama kali ke sini jalan masih berbatu, sekarang sudah di aspal. Lalu sekarang ada listrik juga jadi nggak takut kalaupun pulang malam,” kata Liska. Dia mengatakan sebelumnya niat untuk menginap sudah ada. Tapi karena memiliki bayi, ia khawatir kesusahan di tengah malam.

“Memang gak butuh AC karena di sini dingin. Tapi kalau bayi mandi pagi nggak ada air panas kan susah. Jadi selama ini paling ke sini cuma untuk ngopi, makan, dan foto-foto saja. Kalau nginap di Tongging. Mungkin nanti kalau ada kesempatan bakal menginap ke sini lagi karena katanya sudah bisa air panas sekarang,” katanya.

Perluasan Jaringan Semakin Tinggi

MANAJER PLN ULP Kabanjahe Erwinsyah Lubis didampingi Supervisor Teknik PLN ULP Kabanjahe Amreza mengatakan seiring tumbuhnya objek wisata di Kabupaten Karo permintaan perluasan jaringan listrik di wilayah kerjanya juga semakin tinggi.

“PLN itu punya prinsip siap melistriki ke mana saja selama ada permohonan. Kemarin memang ada permohonan dari Sapo Juma, lalu diproses oleh PLN,” katanya, Jumat (26/2/2021).

Erwinsyah mengatakan, hingga saat ini listrik di daerah tersebut digunakan oleh pelanggan rumah tangga, homestay, dan restoran. Menurutnya untuk pelanggan yang sudah bermohon penyambungan listrik di wilayah kerjanya sudah terlistriki.

“Mungkin kalau ada permohonan dan ada perluasan jaringan, akan kita survey lagi dan kita usulkan. Jadi memang ada faktor-faktor juga yang kita perhatikan untuk perluasan jaringan ini. Di PLN kan terkait dengan investasi dan anggaran. Jadi pasti ada kajian kajiannya di UP3 (Unit Pelaksana, Pelayanan dan Pelanggan) dulu,” katanya.

Erwin menceritakan ULP (Unit Layanan Pelanggan) Kabanjahe yang ia pimpin ini meliputi beberapa kecamatan seperti Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan Tigapanah, dan Kecamatan Merek.

“Di PLN manapun prinsipnya satu, kita tetap menjaga keandalan kualitas listriknya. Mau dimanapun, mau didaerah atau di pusat kota PLN selalu menjaga keandalan,” katanya.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut Denny S Wardhana mengatakan listrik memang sangat dibutuhkan dalam industri pariwisata dan perhotelan. Selama pandemi pemerintah melalui PLN juga memberikan stimulus untuk hotel di Indonesia

“Stimulus yang PLN berikan untuk industri perhotelan adalah kami hanya perlu membayar listrik yang terpakai saja, jadi enggak ada abonemennya lagi,” katanya,

Stimulus ini diberikan dari Juli sampai Desember 2020. Lalu diperpanjang sampai Maret 2021. Stimulus ini untuk pelanggan listrik sosial, bisnis dan industri daya 1.300 VA. Ia mengatakan stimulus yang diberikan sangat membantu untuk dunia perhotelan apalagi di masa pandemi ini.

“Sebelumnya kan pakai abonemen. Sekarang kita hanya membayar sesuai yang kita gunakan saja. Jadi sangat menguntungkan, kalau okupansinya rendah dan kita harus bayar sesuai abonemen, kita rugi. Kalau okupansinya tinggi ya nggak masalah pakai abonemen. Makanya dengan kondisi saat ini kita sangat terbantu atas stimulus ini, kita bisa berhemat dan hanya menyalakan yang perlu saja,” pungkasnya.(trb/bas)