Toko Gitar Terbesar di AS Tutup akibat Pandemi Covid-19

92

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Guitar Center, perusahaan ritel alat musik terbesar di Amerika Serikat mengajukan kebangkrutan. Perusahaan ini menambah deretan perusahaan AS yang bangkrut selama pandemi.

Diberitakan Senin (23/11/2020), Guitar Center harus menutup bisnisnya yang sudah berusia 61 tahun. Pengecer alat musik terbesar di AS itu sebenarnya telah berusaha bertahan selama pandemi virus corona dengan menawarkan pelajaran musik virtual.

Namun sayang Guitar Center terpaksa menutup banyak tokonya pada bulan Maret selama kebijakan lockdown nasional di AS.

Namun sayang Guitar Center terpaksa menutup banyak tokonya pada bulan Maret selama kebijakan lockdown nasional di AS.

Guitar Center memiliki toko di 269 lokasi, banyak di antaranya berada di mall-mall yang sudah bergelut jauh sebelum wabah COVID-19. Tingkat kunjungan mall turun drastis, sementara toko-toko seperti Guitar Center sangat bergantung tingkat kunjungan.

Perusahaan menyatakan dalam pengajuan kebangkrutannya bahwa mereka menerima hingga US$ 165 juta dalam investasi ekuitas baru dan pemberi pinjaman setuju untuk mengurangi utang perusahaan hampir US$ 800 juta.

Pemilik utama Guitar Center, Ares Management Corporation, serta investor ekuitas baru Brigade Capital Management dan dana yang dikelola oleh The Carlyle Group akan membantu membiayai Guitar Center melalui kebangkrutannya.

“Ini adalah langkah penting dan positif dalam proses kami untuk secara signifikan mengurangi utang kami dan meningkatkan kemampuan kami untuk berinvestasi kembali dalam bisnis kami untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang,” kata CEO Guitar Center Ron Japinga dalam sebuah pernyataan.

Perusahaan akan terus menjalankan bisnis selama proses kebangkrutan. Tapi itu mungkin tidak dapat memanfaatkan ledakan belanja pada musim liburan.

Lebih dari seperempat orang AS atau 28% mengatakan mereka akan mengurangi pengeluaran mereka untuk hadiah liburan tahun ini dibandingkan tahun lalu, menurut hasil survei Gallup.

“Kami akan terus melayani pelanggan kami dan mewujudkan misi kami untuk menghadirkan lebih banyak musik di dunia,” kata Japinga.

Dia menambahkan, perseroan menargetkan bisa menyelesaikan proses kebangkrutan tersebut pada akhir tahun.(dtc/bas)