Tak Ada Klaster Baru Corona Sebulan Jelang Pilkada 2020

56

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Menko Polhukam Mahfud Md mengaku senang lantaran, sebulan menjelang Pilkada 2020, tidak ada klaster baru Corona (COVID-19). Dia mengaku kabar tersebut didapat dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Saya gembira dengar laporan Bawaslu dan KPU tadi. Kenapa? Karena, sebelum pilkada disetujui dulu, terjadi protes supaya ditunda karena saat ini sedang COVID. Tapi, alhamdulillah, hingga menjelang empat minggu lagi ke pemungutan suara, proses pilkada sejauh ini tidak menimbulkan klaster baru COVID, baik di DIY maupun di berbagai daerah lain di Indonesia,” kata
Mahfud saat memberikan arahan persiapan Pilkada Tahun 2020 se-DIY yang disampaikan dalam keterangan tertulis Kemenko Polhukam, Sabtu (7/11/2020).

Mahfud meminta KPU dan Bawaslu serta pihak-pihak yang terlibat menjaga pilkada agar dapat berjalan dengan baik sampai selesai, mengingat proses dan tahapan pilkada saat ini sudah mencapai lebih dari 50 persen. Mahfud mengingatkan agar pilkada tak memunculkan klaster baru Corona.

“Oleh karena itu, melalui Gunung Kidul ini saya berpesan kepada seluruh KPU dan Bawaslu serta Forkopimda di seluruh Indonesia untuk menjaga pilkada ini agar selesai dengan baik, tanpa muncul klaster baru COVID dari tahapan-tahapan yang masih akan kita hadapi hingga tanggal 9 Desember mendatang,” tuturnya.

Mahfud mengatakan pilkada serentak tahun ini melibatkan 300 lebih kabupaten/kota. Untuk itu, akan ada sekitar 700 lebih pasangan calon (paslon) akan berkampanye.

“Kenapa melibatkan 309 kabupaten/kota, karena provinsi yang menggelar pemilihan gubernur, juga akan ada kampanye di setiap kabupaten/kota di wilayah itu. Dengan demikian, setiap harinya akan ada kampanye yang dilakukan oleh 715 pasangan calon (paslon) di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bawaslu DIY Bagus Sarwono menyampaikan tantangan terbesar mengawasi jalannya pilkada kali ini adalah terkait kampanye di masa pandemi Corona. Sebab, lebih banyak paslon yang memilih berkampanye dengan tatap muka secara terbatas dibandingkan kampanye daring.

“Menjadi tantangan bagi kita karena sejauh ini kampanye tatap muka secara terbatas yang paling digemari oleh paslon, sementara kampanye secara daring jumlahnya sangat kecil,” ujar Bagus. (dtc/bas)