Startup Unikorn Banyak yang IPO Tahun Depan

46

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Jelang tahun baru perusahaan rintisan (startup) dengan status unikorn diprediksi akan marak melantai ke bursa pada tahun depan.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan bahwa minat tersebut didorong dua unikorn Tanah Air yang tengah mengkaji opsi merger dengan perusahaan special purpose acquisition company (SPAC), yakni Tokopedia dan Traveloka.Kamis (24/12/2020)

“SPAC akan diminati para unikorn dan centaur, keduanya biasanya sudah ada investor regional atau global yang sudah biasa dengan ekosistem SPAC dan bursa di luar. Dan persepsi bahwa bursa luar lebih apresiatif terhadap startup sudah terbukti dari sisi animo para investor,” katanya

Lebih lanjut, dia melanjutkan selain opsi melalui jalur SPAC, potensi bursa lokal juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Bursa lokal pun ke depan akan menarik bagi startup dengan path to profitability yang jelas dan bisa menunjukkan rasio finansial sesuai dengan yang sekarang ada di bursa,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, startup online travel agency (OTA), Traveloka tengah mengkaji opsi merger dengan perusahaan SPAC sebagai opsi melantai di bursa saham. Traveloka President, Henry Hendrawan mengatakan bahwa perusahaan berencana untuk go public dalam waktu dekat.

Baca Juga : Isu Merger Indosat (ISAT) dan Tri, Diduga Ini Penyebabnya
“SPAC adalah salah satu opsi yang sedang kami pertimbangkan berhubung beberapa SPAC telah menghubungi kami,” ujarnya.

Sementara itu, platform dagang elektronik, Tokopedia juga dikabarkan juga tengah membahas potensi merger dengan Bridgetown Holdings Ltd, perusahaan investasi yang didukung miliarder Richard Li dan Peter Thiel.

“Kami tengah mempertimbangkan untuk mengakselerasi rencana kami untuk menjadi perusahaan publik, dan telah menunjuk Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat kami dalam hal ini. Saat ini, kami belum memutuskan pasar dan metode untuk ini,” ujar perwakilan Tokopedia.

Tokopedia juga tengah mengkaji salah satu skema, yakni SPAC atau perusahaan akuisisi bertujuan khusus. Namun, manajemen belum memutuskan apakah skema itu akan benar-benar digunakan nantinya.

“SPAC merupakan salah satu opsi yang potensial yang bisa kami pertimbangkan, namun belum ada yang kami putuskan untuk saat ini,” lanjutnya.(bis/bas)