Setelah Masker Scuba Dilarang, Masker Kain Jadi Penopang Bisnis

98

BeritaIndonesiasatu, Jakarta – Produsen masker kain kini tengah gundah gulana. Pangkalnya, pemerintah melarang pemakaian masker kain jenis scuba di kendaraan umum lantaran kurang efektif menangkal droplet yang mungkin mengandung virus korona baru. Minggu (27/9/2020)

Imbasnya, sudah jelas, permintaan masker scuba pun berkurang drastis. Ini yang Dana Aulia Rahman, pemilik Masker Scuba Original asal Surabaya, alami. “Terjadi penurunan order masker scuba lebih dari 50%,” katanya ke KONTAN.

Penurunan tersebut membuat rata-rata omzet yang bisa Rahman dapatkan hingga puluhan juta rupiah sebulan pun terpangkas setengahnya. Maklum, masker scuba mendominasi total pemesanan masker.

Sebelum ada larangan pemakaian masker scuba, dia rata-rata bisa mendapat pesanan lebih dari 20.000 masker per bulan. Sebanyak 80% di antaranya berupa masker scuba dan 20% masker berbahan polyuerthane yang lebih tebal.

Rahman biasanya menjual masker scuba seharga Rp 3.500 per lembar dan Rp 7.000 untuk masker kain bahan polyuerthane.

Guna mengatasi penurunan pesanan masker, ia dalam waktu dekat akan mengeluarkan masker kain tiga lapis berbahan standar sesuai anjuran pemerintah. “Bahannya masih kami kaji. Ini bisa menjadi opsi pilihan bagi instansi dan pebisnis lain yang biasa memesan masker ke kami,” ujarnya.

Pelanggan Rahman datang dari instansi pemerintah, pabrik, dan pelaku usaha lainnya yang sebagian besar berada di luar Jawa.

Pemain masker lain, Nia Wardhani, pemilik label masker Kawzmu asal Bandung, juga mengalami penurunan pesanan masker scuba. Biasanya, dalam seminggu dia bisa melayani pesanan 300-400 masker scuba, kini merosot menjadi 250-280 order saja.

Nia pun kini memutuskan untuk tidak menyetok bahan masker scuba. Dan, ia mulai mengoptimalkan masker dari bahan hipolytex untuk membuat masker kain dua lapis jenis duckbill.

Jika sebelumnya masker scuba berkontribusi 80% dari total pesanan sebulan yang berkisar 2.500 hingga 3.000 lembar, kini masker duckbill sudah menyumbang 60% dari keseluruhan order. “Pelanggan adalah reseller dari Tangerang, Bekasi, dan Jakarta,” katanya, yang mematok masker Rp 25.000- Rp 35.000 per lembar.

Clarissa Aurelia, pemilik The Larc Official dari Jakarta, juga mengakui terjadi perubahan penjualan masker, setelah ada larangan pemakaian scuba. Kini, masker kain dua dan tiga lapis, yang juga ia produksi menjadi mulai banyak dipesan.

Sebelum ada larangan, pesanan masker scuba bisa mencapai 90% dari total pesanan masker yang datang ke tempatnya. “Kini, jumlahnya menjadi imbang, antara scuba dan masker kain,” ujar Clarissa ke KONTAN.

Dia mengklaim, meski penjualan masker scuba turun, secara jumlah tidak ada penurunan karena ada lonjakan permintaan masker kain jenis lainnya.(ktn/bas)