Semburan Sumur Gas Beracun di Pesantren Pekanbaru Berhenti

20

Beritaindonesiasatu, Riau – Setelah sepuluh hari semburkan gas beracun bercampur lumpur di Pondok Pesantren Al-Ihsan kota Pekanbaru Riau, hari ini berangsur berhenti. Sabtu (13/2).

Awalnya kemunculan gas bercampur lumpur tersebut terjadi pada 4 Februari lalu saat pekerja tengah menggali sumur. Tinggi lumpur dan gas mencapai 15 meter.

Kedalaman sumur diperkirakan 119 meter. Awalnya hanya gas yang keluar dari perut bumi. Namun sehari setelahnya dari dalam sumur turut keluar lumpur, batu dan pasir yang terlontar hingga radius 200 meter dari titik semburan.

Meluasnya lontaran material batu dan pasir membuat bangunan pesantren di sekitar sumur rusak. Selain itu timbunan lumpur mencapai ketinggian hingga empat meter yang menimbun sebagian bangunan. Akibatnya, 34 santri dan warga di sekitar ponpes diungsikan.

Perusahaan Gas EMP Bentu yang ikut menyelidiki kejadian ini menyatakan semburan gas berpotensi terbakar dan mengandung H2S (hidrogen sulfida) yang beracun.

Dilansir dari Antara, setelah 10 hari berselang, lumpur di sekitar kompleks pondok pesantren kini mulai mengering. Titik semburan menyisakan lubang menganga yang ukuran garis tengahnya berdasarkan data tim gabungan mencapai enam meter. Pegawai EMP Bentu secara rutin masih terlihat mengukur kadar gas dengan alat khusus setiap satu jam.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau Indra Agus Lukman menyatakan teknis penutupan lubang akan menggunakan alat berat yang mengalirkan air ke dalam lubang tersebut untuk mengeluarkan lumpur yang tersisa. Apabila tekanan dari dalam lubang sangat rendah, proses akan dilanjutkan dengan langsung menutup lubang dengan semen.

“Namun, apabila masih ada tekanan dari dalam lubang, akan diinjeksi dengan lumpur panas dengan alat berat,” katanya.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Riau Irdas Amanda Muswar menyatakan dari pantauan pada Jumat (12/2) sudah tidak ada lagi material yang mengalir dari dalam lubang. Kondisi lubang semburan dinilai tidak mengkhawatirkan lagi untuk dilakukan proses penutupan. Gas yang menyembur tersebut menurutnya adalah gas rawa yang banyak ditemukan di daerah itu.

“Kondisi saat ini hampir tak ada material yang keluar. Yang ada saat ini adalah sisa dari proses erosi akibat sebelumnya ada semburan gas,” katanya.

IAGI Riau berharap ke depannya ada pemetaan potensi gas rawa di daerah tersebut, sehingga masyarakat setempat yang menggali tanah untuk mencari sumber air tidak mengalami kejadian serupa. (cnn/bas)