Sektor Properti Diprediksi Menggeliat Pada Tahun 2022, Pengembang Bersiap

79

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Pengamat Properti sekaligus CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menilai, sektor properti sudah mengalami tujuh tahun cuti sejak alami lonjakan tren pada pada 2009 hingga 2012 silam. Rabu (23/12/2020)

Sejak awal tahun ini Ali menyebut properti sebenarnya mulai alami kenaikan hanya saja lantaran pandemi Covid-19 kembali melambat.

Namun usai pandemi berakhir, diprediksi sektor properti akan kembali pada jalur cepat bahkan melesat terutama pada 2022. Dari sana Ali menyarankan para pengembang untuk dapat menyiapkan diri ketika sektor properti naik kembali.

“Saya perkirakan mungkin di akhir 2021 itu baru mulai properti bergerak dan 2022 mulai naik. 2022 naik akan naik kencneg,” jelas Ali saat diskusi virtual.

Melihat dari data Ali menerangkan, sektor perumahan pada tahun 2020 di kuartal pertama diakui anjlok sampai minus 50%. Namun kondisi berubah pada kuartal kedua, dan kembali merosot pada kuartal ketiga. Ketidakstabilan kondisi sektor perumahan diungkap Ali lantaran adanya kebijakan PSBB guna menekan penyebaran pandemi.

“Ketika dilonggarkan PSBB maka naik properti tapi ketika diketatkan lagi langsung anjlok, artinya saya melihat sebetulnya di satu sisi ini anomali,” kata Ali.

Sektor properti dinilai tidak bisa hanya mengandalkan digital marketing. Ali tak menampik dengan adanya digital marketing bisa memperluas cakupan pemasaran properti. Namun pada kondisi tertentu calon pembeli properti tetap harus datang ke lapangan untuk melihat kondisi properti secara langsung.

Dengan kondisi adanya PSBB tentu hal tersebut berimbas pada menurunnya calon pembeli yang ingin datang langsung ke lapangan. “Ketika melakukan transaksi itu memang harus ada kondisi-kondisi yang memungkinkan dia datang ke lapangan,” imbuhnya.

Saat ini Ali menyebut sektor properti yang melambat bukan karena daya beli masyarakat yang tidak ada. Namun banyak masyarakat terutama menengah keatas yang memilih menahan belanja. “Daya beli itu ada tapi semua menahan iya. Nah ini tergambar dari survei kami ternyata masih ada 68,09% masyarakat yang berminat membeli properti saat pandemi, dengan urutan 51% itu memilih rumah, 22% memilih tanah dan 11% memilih apartemen,” imbuhnya.

Hal lainnya yang masih menunjukkan bahwa daya beli sebenarnya masih ada ialah, adanya perubahan cara bayar dari kuartal kedua ke kuartal ketiga. Hal lainnya juga terlihat di dana pihak ketiga yang ditabung di perbankan sampai semester 2 ada sekitar Rp 6.200 triuliun.

Dilansir kontan Saat ini ada kecenderungan masyarakat baik individu atau institusi yang menabung Rp 5 miliar keatas naik. Namun kondisi tersebut juga jadi berbahaya jika semakin banyak masyarakat menabung namun tidak diimbangi dengan konsumsi. “Semua nyimpen di bank ini bahaya karena satu sisi daya beli ada banyak uang kita, tapi di sisi lain kalau uang ini tidak keluar ya tidak akan menggerakkan ekonomi,” kata Ali. (kntn/bas)