Sekeluarga Terjebak di Laut Saat Mancing di Marunda

72

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Satu keluarga ditemukan terjebak di tengah laut saat memancing di Pantai Marunda, Jakarta Utara. Seperti apa ceritanya?

Mereka terjebak di laut pada hari Minggu (29/11). Saat kejadian, para korban yang sedang memancing tiba-tiba dikagetkan kondisi cuaca buruk di lautan. Mereka berdiri di atas bagan.

Sebagian jembatan ambruk setelah ombak besar terus-menerus menerjang bagan lautan. Mereka pun sempat panik dan mulai kedinginan.

Peristiwa tersebut pun dikonfirmasi oleh pihak SAR. Menurutnya, satu keluarga tersebut sudah berhasil dievakuasi oleh nelayan yang berada di dekat lokasi kejadian.

“Kejadiannya kemarin di Pantai Marunda. Dan berhasil diselamatkan oleh nelayan sekitar,” ujar Kepala Kantor SAR Jakarta, Hendra Sudirman saat dihubungi detikcom, Senin (30/11/2020).

Satu keluarga tersebut terombang-ambing lantaran saat memancing, kondisi cuaca sekitar sedang ekstrem akibat La Nina.

La Nina menyebabkan kondisi curah hujan tinggi, angin kencang serta gelombang yang tinggi di tengah laut.

“Mereka sedang memancing di Bagan pantai, padahal kondisi cuaca sedang ekstrem karena efek La Nina,” jelas Hendra.

Tim SAR yang datang ke lokasi mendapatkan laporan dari nelayan sekitar tentang kondisi para korban. Selepas berhasil diselamatkan, para korban dikabarkan selamat dan dalam kondisi sehat.

“Tim kami sampai disana sudah tidak ada lagi karena memang daerah itu ramai nelayan. Kami mendapat info dari nelayan lain bahwa para korban selamat” tuturnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkap sejumlah daerah di Indonesia berpotensi mengalami banjir akibat fenomena iklim La Nina. Banjir diprediksi akan terjadi mulai November 2020 hingga Januari 2021.

Dwikorita menjelaskan La Nina dapat meningkatkan akumulasi curah hujan bulanan dan musiman di Indonesia. Ia menilai perlunya antisipasi dampak La Nina berupa bencana hidrometeorologi banjir, banjir bandang, longsor angin kencang, dan puting beliung.

“Sebagai langkah mitigasi perlu dilakukan optimalisasi tata kelola air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, danau embung sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih,” kata Dwikorita dalam pembukaan Rapat Koordinasi Bidang Nasional Kebudayaan dengan tema ‘Gerakan Menanam Pohon Kepala Daerah PDI Perjuangan se-Indonesia’, Sabtu (31/10).

Selain itu, Dwikorita mengatakan, BMKG mendorong Pemerintah Daerah dan masyarakat agar tetap memonitor perkembangan cuaca atau iklim. Perkembangan dapat dipantau melalui web BMKG, aplikasi mobile phone Info BMKG, hingga menghubungi kantor BMKG yang ada di setiap provinsi.(dtc/bas)