Saluran Irigasi Longsor, Ratusan Petani di Toba Terancam Gagal Tanam Padi

61

Beritaindonesiasatu, Balige – Sejumlah petani di Kecamatan Habinsaran mulai gelisah akan gagalnya mereka menanam padi pada sekitar tiga pekan mendatang. Senin (30/1/2020).

Kegelisahan muncul akibat terputusnya tali air yang membuat pasokan air tidak ada.

Saat berada di lokasi, sejumlah sawah sudah mengering, secara khusus penyemaian padi yang mulai mengering sementara musim tanam sudah semakin mendekat.

Tapi air yang memasok air ke seluruh sawah yang dimiliki oleh masyarakat dengan jumlah 700 Kepala Keluarga terancam tidak mendapat air manakala pembenahan tali air terlambat.

Di lokasi terputusnya irigasi sawah, terlihat irigasi tersebut longsor. Bahkan pohon pinus yang tumbuh di dekat saluran irigasi tersebut ikut terbawa longsor yang kedalamannya mencapai 50 meter.

Dari penuturan petani setempat, biasanya mereka sudah mulai membibitkan padi pada bedengan yang sudah siap tanam.

Melihat kondisi air yang tidak mencukupi, mereka akan rugi besar manakala tetap bersikukuh menanam padi.

“Kalau dipaksakan ini malah membuat rugi. Sebagian di sini sedang panen. Tapi, ada juga yang sudah membibitkan padi atau membuat penyemaian. Kalau kita lihat kondisi saat ini, enggak yakinlah kita mau menanam padi.

Tempat penyemaian pun sudah mulai kering dan retak-retak,” ujar Jonri Pane (43), seorang petani sekaligus menangani pengairan di kawasan tersebut saat disambangi di lokasi pada Senin (30/11/2020).

Sebagian padi sedang menguning dan siap di panen. Artinya, sekitar dua minggu ke depan para petani akan membajak tanah agar segera ditanami padi.

Dengan kondisi irigasi yang tidak beres, para petani sudah merasa was-was akankah mereka sanggup menanam padi di pertengahan bulan Desember.

“Kalau seperti ini, tidak mungkin kita menanam padi. Kalau mengharapkan hujan, tak akan sanggup. Lebih baik tanam yang lain daripada kosong. Memang yang kita butuhkan padi, tapi daripada lahan tidur, mungkinlah tanam yang lain, misalnya jagung,” sambungnya.

Ia juga menegaskan bahwa ada tiga klaster persawahan yang terdampak akibat terputusnya tali air.

“Ini yang tiga ini kan adalah lumbung padi. Dari sini, yakni sawah Lobu, dilanjutkan dengan Sileangleang, dan Sabahula. Tiga lokasi ini menjadi persawahan utama bagi masyarakat Habinsaran ini,” pungkasnya.(trb/bas)