Ratusan Akun Curian yang Dijual Sudah Dihapus Instagram

71

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Facebook menghapus 400 akun Instagram yang diretas dan dijual hingga ratusan juta rupiah oleh mereka yang terkait dengan komunitas jual beli akun media sosial curian, OGUsers.

Akun-akun ini diretas dan dijual lantaran menggunakan username (nama pengguna) yang bernilai tinggi. Akun-akun yang diincar biasanya sangat langka dan banyak diburu seperti @food atau huruf seperti @B. Akun-akun dengan nama seperti ini bisa dijual hingga puluhan ribu dolar atau berkisar ratusan juta rupiah.

Facebook sebagai pemilik Instagram memiliki aturan terkait penjualan akun. Menurut juru bicara Facebook, mereka yang terlibat dalam peretasan dan jual beli akun ini sudah dikenal dalam komunitas jual beli akun. Komunitas ini berkumpul di forum OGUsers.

“Hari ini kami menghapus ratusan akun yang terkait dengan anggota forum OGUsers…Mereka melecehkan, memeras, dan merugikan komunitas Instagram,” tulis Instagram dalam pernyataan resmi, seperti dilaporkan Engadget.

Komunitas jual beli akun ini sendiri memperdagangkan berbagai nama pengguna yang diinginkan dari berbagai situs media sosial, mulai dari Twitter hingga Netflix. Motifnya, akun-akun itu digunakan untuk mendapat uang dan pengaruh.

Orang-orang yang dituduh berpartisipasi dalam peretasan besar Twitter tahun lalu, ketika banyak akun VIP dibajak, juga memiliki hubungan dengan praktik ini dan forum OGUsers online.

Ini adalah pertama kalinya Facebook melakukan penindakan tegas terhadap aktivitas mereka yang terlibat dalam forum jual beli akun curian itu.

Twitter Inc dan aplikasi video pendek TikTok juga mengatakan mereka baru-baru ini mengambil tindakan terhadap pengikut OGUsers karena melanggar aturan mereka.

Administrator situs OGUsers tidak segera menanggapi permintaan komentar seperti dilaporkan Reuters. Sebelumnya, forum itu berkelit kalau mereka telah melarang jual beli akun yang didapat lewat peretasan.

Menurut juru bicara Facebook, para peretas bisa mencuri akun para pengguna lewat teknik phishing dan SIM swap. Sehingga, peretas bisa mendapatkan akses ke telepon pengguna dan masuk ke akun tersebut.

Namun, di sisi lain, Facebook melihat ada peningkatan modus pencurian akun yang melibatkan tindakan kriminal seperti pelecehan, pemerasan, pemerasan, dan pemaksaan. Sehingga, Facebook menilai ini adalah situasi darurat yang membutuhkan tanggapan kepolisian.

Facebook sendiri mengaku telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum terkait hal ini.

Lebih lanjut, menurut perusahaan media sosial itu, banyak orang yang terlibat dalam praktik ini adalah anak di bawah umur. Facebook juga telah mengirim surat penghentian kepada sekitar belasan orang yang terlibat di balik peretasan dan penjualan sekitar 400 akun itu.

Akun-akun yang dinonaktifkan ini termasuk akun swappers. Swappers adalah aksi memindahkan nama akun penguna yang sudah punya nama ke akun baru dan perantara (middleman).

Perantara ini adalah mereka yang mengawasi transaksi antara pembeli dan penjual nama pengguna (username)Instagram. Mereka mengambil keuntungan dengan memberikan biaya jasa dalam Bitcoin. Salah satu akun perantara yang ditutup adalah @trusted.

Forum ini juga terkait dengan peretasan besar-besaran yang sempat melanda Twitter pertengahan tahun lalu. Saat itu, seorang penipu Bitcoin dapat mengakses akun Barack Obama, Elon Musk, dan pengguna Twitter ternama lainnya.

Juru bicara Twitter juga menyebut telah menangguhkan permanen sejumlah akun yang terkait jaringan OGUsers. Sebab, akun-akun ini dinilai melanggar aturan manipulasi platform dan spam. Lebih lanjut, Twitter menyebut tengah melakukan penyelidikannya bersama dengan Facebook.

Sementara juru bicara TikTok mengatakan sudah mengambil alih kembali sejumlah nama pengguna yang telah didaftarkan oleh OGUsers. Mereka mendaftarkan akun-akun itu untuk dijual kembali dan mendapatkan keuntungan.(cnn/bas)