Petani Kopi di Madina Minta Calon Bupati Perhatikan Stabilitas Harga dan Produksi

97

Beritaindonesiasatu, Madina – Semua pihak baik petani, nelayan, buruh tentunya memiliki harapan yang sangat besar Pilkada Mandailing Natal yang digelar pada 9 Desember nanti dapat memberikan perubahan kepada arah yang lebih baik di semua tatanan kehidupan. Rabu (25/11/2020)

Para petani kopi misalnya melalui momen Pilkada ini mereka berharap kepada calon Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih nantinya bisa memberikan perhatian lebih kepada mereka agar taraf kehidupan masyarakat kopi di Mandailing Natal bisa meningkat.

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Mandailing Natal, Juanda, menyebut saat ini ada beberapa persoalan yang dihadapi para petani di lapangan, salah satunya adalah persoalan harga pasar dan produksi.

“Persoalan yang dihadapi para petani kopi saat ini adalah tidak stabilnya harga kopi ditingkat petani serta minimnya produksi,” ujarnya.

Saat ini harga ceri kopi jenis arabika per kilo gramnya hanya dikisaran Rp.15.000 hingga Rp. 20.000. Akibat anjloknya harga jual ini membuat para petani kopi di daerah-daerah menjadi malas untuk mengurusi kebun mereka bahkan telah berpengaruh kepada kurang diminatinya pembukaan lahan perkebunan baru.

Tidak stabilnya harga ini tentu menjadi sebuah dilema bagi petani kopi di kawasan Mandailing. Akibat tidak stabilnya harga tersebut tentu peran dari pemerintah daerah sangat diharapkan, termasuk dengan membuat sebuah kebijakan agar harga jual kopi ditingkat petani kembali meningkat.

“Para petani sering menghadapi persoalan anjloknya harga jual kopi bahkan dimasa pandemi seperti sekarang ini pasaran harga jual dan permintaan pasar menjadi lesu. Untuk itu kita berharap kepada calon Bupati dan Wakil Bupati terpilih nantinya bisa membuat kebijakan dan harapan baru akan hal itu,” harapnya.

Sedangkan upaya peningkatan produksi kopi kedepannya, Juanda berharap adanya sebuah kebijakan dari pemerintah seperti pemberian bantuan berupa dana tambahan bagi petani karena langkah ini dinilai sebagai solusi menggairahkan semangat petani baru.

Adapun bantuan yang dimaksud adalah dana tambahan yang bersumber dari dana otonomi khusus (otsus). Para petani kopi diberikan bantuan berupa bibit, alat pembukaan lahan. Dengan demikian masyarakat petani bisa lebih terbantu untuk mengembangkan usahanya.

Juanda menyebut, bagi masyarakat petani, kopi adalah emas bagi kehidupan. Meskipun begitu menjadi petani kopi harus memiliki kesabaran yang tinggi. Pasalnya, untuk menikmati pundi-pundi rupiah dari kopi ini tentu memerlukan tahapan yang panjang.

Menanam kopi bagi masyarakat Mandailing sendiri tidak dilakukan saat ini saja, tetapi sudah dilakukan berpuluh tahun bahkan beratus tahun yang silam. Kwalitasnya juga sangat berbeda dengan kopi yang ada daerah lain. Hal ini dikarenakan kopi Mandailing tidak dipanen dengan sistem sisir melainkan, dengan memilih biji yang sudah merah atau masak. Dengan cara panen itulah kopi Mandailing bisa mempertahankan kwalitasnya hingga sekarang.(ant/bas)