Perang Ide dan Gagasan di Pilkada

117

Oleh : Lilik Misnaryadi S.Psi

Beritaindonesiasatu Medan – Genderang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia telah ditabuh. Saat ini telah mulai memasuki tahapan yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai Lembaga penyelenggara Pemilu, baik itu Pilpres, Pileg, maupun Pikada.

Tak ayal, pasangan calon (Paslon) Kepala daerah pun mulai mengambil hati masyarakat pemilih, baik lewat tim tim sukses yang mereka bentuk, ataupun secara langsung turun ke lapangan. Saat ini apalagi di media sosial (medsos), para tim sukses pasangan calon mulai mengumbar janji ,ide dan gagasan yang mereka tuangkan dalam status mereka di medsos.

Namun tak dipungkiri, ada juga para tim sukses dan relawan yang sengaja mengumbar status dengan menjelek-jelekkan lawan jagoan mereka dengan mengumbar kebencian (black kampanye), tanpa melihat kemampuan pasangan calon yang mereka jagokan.

Ini yang kerap terjadi. Menjelekkan kinerja lawan pasangan calonnya, tanpa berfikir terlebih dahulu apakah dirinya atau pasangan calon yang didukungnya akan lebih baik kalau seandainya berada diposisi yang sama. Tak perduli tentunya, asal bisa memfitnah, asal bisa menggiring opini ujaran kebencian, akan merasa puas meski hal itu disadari atau tanpa disadari akau menjatuhkan popularitas paslon yang didukungnya.

Untuk apa sebenarnya melakukan hal seperti itu. Apakah hanya untuk mencari kepuasan? . Atau biar dianggap hebat oleh nitizen?.

Padahal, saat ini yang sangat diharapkan oleh masyarakat, ialah bagaimana Pemimpin kedepan bisa membuat daerah yang dipimpin bisa lebih baik dalam segala hal.

Warga masyakat sudah sangat cerdas dalam memilih pemimpinnya saat ini. Untuk itu, perang ide dan gagasan dalam berkampanye lebih cerdas baik untuk mengambil simpati rakyat. Akan lebih membekas di hati rakyat untuk memenangkan suara para paslon Kepala daerah.

Banyak ide dan gagasan cerdas yang bisa disampaikan agar bisa mendulang suara lebih banyak daripadi harus menghujat dan menyampaikan ujaran kebencian.