Perajin Gerabah di Palembang, Bertahan Tanpa Bantuan Pemerintah

98

Beritaindonesiasatu, Palembang – Sudah delapan bulan lamanya, penghasilan Dede Sarimana (52) dan suaminya Yoyo Kartana (59) sebagai perajin gerabah anjlok sampai 50 persen akibat pandemi Covid-19.

Sebab gerabah hasil buatan tangan mereka mengalami sepi permintaan dibandingkan pada masa sebelum pandemi Covid-19. Dikatakan Dede, dalam satu bulan terakhir ia biasanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 5 juta untuk penjualan gerabah jenis celengan ayam, kendi dan wadah tembuni.

Namun, untuk sekarang, mereka hanya mendapatkan uang Rp 2,5 juta. Hasil tersebut belum lagi dipotong untuk pembelian kayu bakar serta tanah liat sebagai bahan baku pembuatan gerabah.

“Untuk membeli tanah liat saja satu truknya itu Rp 1 juta. Kayu bakar bisa Rp 300.000. Bisa dikurangi dari pendapatan itu, tapi alhamdulilah masih ada yang beli,”kata Dede, Kemarin.

Kondisi sekarang menurut Dede lebih baik dibandingkan tiga bulan belakangan. Bahkan, pada Mei sampai Juni kemarin seluruh gerabah mereka tak ada yang memesan sehingga hanya tertumpuk di rumah. “Mei itu awal puasa sampai lebaran benar-benar kosong. Sudah bingung harus gimana, untungnya kami ada tabungan sedikit dan cukup untuk makan,”ujar ibu dua anak tersebut.

Wanita kelahiran tanah Sunda ini telah menjadi pengrajin gerabah bersama suaminya di Jalan Takwa Mata Merah, Lorong Keramik RT 11, RW 05, Kelurahan Sei Selincah, Kecamatan Kalidoni, Palembang, Sumatera Selatan sejak 1987. Akan tetapi, kondisi terburuk sangat ia rasakan pada tahun pandemi Covid-19.

Dede pun telah beberapa kali mengajukan permintaan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk usaha terdampak Covid-19 dari pemerintah. Namun, sampai sekarang ia mengaku tak pernah mendapatkan bantuan tersebut. Agar usahanya itu tetap berjalan, Dede dan Yoyo pun memutar otak dengan menerima pesanan pot bunga hias yang kini sedang banyak diminati oleh masyarakat.

“Untuk pot bunga baru-baru ini dibuat, kemarin hanya gerabah celengan dan temuni saja. Pot juga tak banyak dipesan, satu bulan hanya kisaran 30 an. Kalau bantuan sih kami tidak ada, tidak pernah dapat. Usaha ini masih bisa bertahan karena tabungan kami saja, “ujarnya.

Yoyo dan Dede sengaja tak mempekerjakan karyawan untuk menekan biaya pengeluaran. Selain itu, dengan membuat kerajinan gerabah sendiri, mereka dapat menghasilkan bentuk yang baik dan berkualitas.

“Kalau bayar orang nggak sanggup apalagi sedang kondisi begini. Biasanya untuk upah pembuatan, per unitnya Rp 1.000. Tapi saya sama suami lebih suka kerjakan sendiri, karena hasilnya lebih bagus,”tambah Yoyo.

Untuk proses pembuatan gerabah sendiri, memerlukan waktu yang cukup panjang. Sebab, kondisi cuaca sangat menentukan sebelum gerabah masuk dalam tahap pembakaran.

“Sebelum dibakar itu dijemur dulu sampai kering, setelah itu baru dibakar. Kalau langsung dibakar hasilnya tidak bagus, dia jadi hitam dan mudah pecah. Untuk membakar juga biasanya minimal 600 potong pot temuni, 200 celengan dan 600 pot. Kalau sedikit-sedikit tambah rugi, karena kayu bakarnya mahal,”jelas Yoyo.(kcm/bas)