Pemilik Bimbel Jualan Pepes Ikan demi 400 Pengajarnya yang Dirumahkan

121

Beritaindonesiasatu, DENPASAR – Pandemi Covid-19 memukul beragam sektor usaha ekonomi. Tidak sedikit dari perusahaan memilih gulung tikar daripada menunggu ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir.

Sektor bisnis pendidikan juga tidak luput dari terjangan badai pandemi. Itulah yang dirasakan oleh Ni Putu Arie Utami, owner Anemone Reading School yang memiliki ratusan cabang tersebar di Indonesia.

Wanita yang akrab disapa Ammy tersebut bercerita tentang bagaimana badai pandemi Covid-19 sempat memporak-porandakan usahanya, mulai dari peserta bimbel mulai berkurang hingga harus menutup seluruh cabang hingga waktu yang lama. Ammy pertama terjun ke bisnis dunia pendidikan pada 2007 lalu. Dia membuka lembaga bimbel cara baca tulis ajaib di Denpasar, Provinsi Bali.

Bisnisnya berkembang pesat dari tahun ke tahun. Pada Maret 2016 lalu, Ami berhasil membuka 42 cabang di seluruh Pulau Bali dan berencana akan melakukan ekspansi ke luar Pulau Bali.

Hanya butuh empat tahun saja, Anemone Reading School sudah merambah ke pasar Indonesia bagian Barat. Kini ada 130 cabang baru yang tersebar di kota-kota besar seperti Medan, Tangerang, Yogyakarta, Surabaya, dan Banyuwangi.

“Satu lagi di Jakarta kita mau buka, sekarang masih masa training,” kata dia saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (30/9/2020).
Tapi pertumbuhan bisnisnya kini tersendat, tidak lain penyebabnya adalah pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Terlebih puluhan cabang yang berada di Pulau Bali.

Tak ada lagi murid, guru dirumahkan Dia mengatakan, pandemi secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan penurunan jumlah murid yang belajar di bimbelnya. Bali dikenal dengan daerah tujuan wisata, banyak dari orangtua muridnya berprofesi sebagai pengelola tempat wisata atau bergerak di bisnis wisata.

“Apalagi di Bali pariwisata penghasilan orang tua murid banyak terdampak,” kata Ammy. Dampak Covid-19 terhadap pariwisata di Pulau Bali membuat beberapa murid yang biasa belajar di Anemone Reading School berguguran.

Sedangkan dampak langsungnya adalah, Ammy harus memutuskan untuk menutup sementara 130 cabang Anemone Reading School di seluruh Indonesia.

“Kita sempat tutup kemarin beberapa bulan, dari bulan Maret, April, Mei tutup total sama sekali no omzet,” kata dia. Learn more Pada awal pandemi, Ammy dan seluruh karyawannya tidak pernah menyangka pandemi Covid-19 akan berlangsung lama. Dia berpikir paling lama dua bulan Covid-19 sudah hilang di Indonesia.

Namun sangkaannya ternyata salah, makin hari kasus Covid-19 di Indonesia dan juga di Provinsi Bali kian meningkat. Dia mulai berpikir bagaimana jika ini tidak berakhir dalam waktu dekat. “Ketika bulan April makin serius kasusnya, mulai mikir ini bagaimana bisa survive,” kata dia.

Beruntung di awal tahun, banyak dari orangtua murid Anemone Reading School memilih membeli paket belajar mulai dari 3 bulan sampai 1 tahun. Sebagai owner dia merasa beruntung, tapi tidak untuk para guru yang tidak mendapat penghasilan apabila tidak mengajar.

“Saya memikirkan karyawan ada 400 orang guru yang enggak berpenghasilan. Kalau owner kan sudah pegang omzet, tapi gurunya kasihan,” kata dia. Beralih ke bisnis makanan Ammy kemudian memutar otak untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru yang bisa bertahan dan bertumbuh di masa pandemi Covid-19. Dia memilih bisnis makanan, alasannya tidak ada orang yang tidak makan selama mereka masih hidup.

“Bisnis makanan ini yang paling bisa bertahan di masa pandemi, walaupun ada juga penurunan. Ada makanan frozen food, akhirnya bikin formula sendiri tercipta produknya,” kata dia.

Setelah membuat produk pepes ikan dengan bumbu rajang khas Bali yang dikemas dengan kemasan frozen food, Ammy mengundang karyawannya untuk menjadi reseller dari usaha barunya itu.

“Kita kasih kesempatan kepada guru-guru yang rehat enggak ngajar kita jadikan reseller, banyak yang mau mengambil peluang ini, akhirnya mereka sedikit demi sedikit bisa tetap berpenghasilan,” kata dia.

Memupuk harapan di tengah kesulitan ekonomi Ketika ditanya kenapa repot-repot memikirkan ratusan karyawan, padahal Ami sendiri sudah mengantongi keuntungan di awal?

Dia mengatakan agar seluruh karyawannya bisa tetap memiliki harapan di Anemone Reading School. “Sebanyak 400 orang ini join di Anemone punya harapan, kalau dulu harapannya membuka bimbel dan mengajar di bidang pendidikan.

Nah ketika mereka tidak bisa berpenghasilan lagi, saya ingin mereka tetap punya harapan di Anemone, saya sebagai leader memikirkan cara supaya siapa yang ada di komunitas kita, yang ada di Anemone itu bisa memiliki harapan,” kata Ammy.

Dia mengatakan, ada perasaan bahagia ketika karyawannya yang penghasilannya tersendat akibat Covid-19 bisa kembali memiliki harapan dan berpenghasilan kembali.

Learn more “Ketika mereka ada penghasilan lagi seperti ada perasaan bahagia gitu, ternyata mereka masih bisa memiliki harapan di masa seperti ini,” tutur dia. Setelah tiga bulan penutupan bimbel Anemone, banyak orang tua murid meminta agar lembaga bimbel kembali dibuka untuk persiapan anak-anak mereka masuk ke sekolah dasar.

Ammy pertimbangkan untuk kembali dibuka secara perlahan dengan cara shifting dan mengurangi jumlah kehadiran guru di kelas yang sebelumnya terdapat dua guru dalam satu kelas menjadi satu guru agar protokol kesehatan berjalan.

Begitu juga jumlah anak yang dikurangi dalam satu kelas yang saat ini hanya ada tiga anak dalam satu kelas pembelajaran. “Kelasnya kecil untuk sesi, 1 guru 3 anak, dengan protokol kesehatan yang ketat. Itu kita lakukan sekarang,” kata dia.

Adaptasi dengan kondisi Ammy mengatakan dirinya masih optimis bahwa bisnis pendidikan tidak akan pernah mati selama manusia masih beregenerasi. Hanya saja diperlukan kreativitas dan inovasi di setiap zaman agar bisnis bisa tetap bertahan.

“Setiap krisis pasti ada peluang, setidaknya 5-10 tahun ke depan bisnis kita sekarang yang tidak bisa kita samakan dengan blue print sebelum pandemi. Menyesuaikan diri, adaptif inovatif untuk membuat bisnis kita bisa berjalan dan bahkan bisa berkembang di masa pandemi,” kata dia.

Dia juga memiliki harapan agar Pemerintah bisa mempertimbangkan pembelajaran tatap muka bisa berlangsung di masa pandemi dengan cara-cara yang tidak melanggar protokol kesehatan. Karena esensi dari pendidikan, kata Ami, bisa saja hilang jika pembelajaran dalam jaringan (daring) yang hanya bisa melakukan transfer pengetahuan tanpa bisa mentransfer motivasi, kebijaksanaan dan pembelajaran kehidupan sosial dari seorang guru kepada murid-muridnya.

“Daring mungkin bisa transfer knowladge, tapi bisa nggak memotivasi murid? Itu kan tidak bisa dilakukan dengan online. Harapan saya tetap bisa tatap muka, tapi diatur dengan protokol kesehatan seperti sifting, atau mengurangi jumlah murid dalam kelas,” kata dia. (kcm/bas)