Pemerintah Belum Temukan Mutasi Virus Corona di Indonesia

32

Beritaindonesiasatu, Jakarta — Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan sejauh ini pemerintah belum menemukan infeksi corona di Indonesia yang berasal dari mutasi virus Corona Covid-19 baru.

Budi mengatakan pemerintah sejauh ini telah mengidentifikasi dan memantau pergerakan dari setidaknya tiga wilayah yang memiliki risiko tinggi penularan mutasi corona baru.

Ketiga wilayah itu adalah Inggris, Afrika Selatan, dan Brazil yang memang pertama mendeteksi sejumlah varian baru virus corona.

Sampai saat ini, kami belum menemukan adanya virus yang kami deteksi dalam PCR dengan strain atau jenis mutasi dari London, Afrika Selatan, maupun dari Brasil,” kata Budi dalam jumpa pers Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro Jilid 3.

Budi menuturkan pemerintah terus berupaya membatasi dan memantau pergerakan dengan ketat dari ketiga wilayah tersebut.

Pemerintah, kata Budi, juga terus berupaya meningkatkan kapabilitas pelacakan (tracing) untuk memastikan apakah kasus mutasi corona telah masuk ke Indonesia.

“Atas arahan Presiden Jokowi pada awal Januari, kami mulai bekerja sama dengan Menristek membangun jaringan 12 laboratorium untuk koordinasi sampling dan testing untuk menemukan mutasi baru strain virus corona,” kata Budi.

Sejauh ini, Budi menuturkan sudah ada lebih dari 150 sampel untuk diteliti.

Sejumlah negara memang tengah digegerkan dengan kemunculan sejumlah mutasi corona yang disebut lebih menular.

Pada awal pekan ini, Menristek atau Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah masih melakukan sampling terkait penelitian mutasi baru corona.

Lima provinsi yang paling banyak diambil sampel adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bambang mengatakan Indonesia masih terus melakukan Whole Genome Sequence (WGS). Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, sebagai salah satu pihak yang melakukan WGS, juga menargetkan menganalisis 5.000 sampel.

Bambang menilai varian baru virus corona SARS-CoV-2 berpotensi memperburuk kondisi penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Dia menilai keberadaan varian itu bisa membuat rumah sakit kelebihan kapasitas.(cnn/bas)