Pemakai Sabu Meningkat Tajam Sejak Pandemi Covid-19

88

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Polri mengatakan terjadi peningkatan pemakaian narkoba khususnya berjenis sabu selama pandemi Virus Corona (Covid-19). Hal ini dapat dilihat berdasarkan data kinerja Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri tahun 2020.

“Jadi untuk data Statistik yang ada pada kita bahwa 9 bulan ke belakang dibandingkan 9 bulan tahun lalu itu angka yang meningkat dari jenis narkotika itu jenis sabu, itu cukup meningkat,” kata Dirtipidnarkoba, Brigjen Krisno Halomoan Siregar di Bareskrim Polri, Jaksel, Rabu (23/12/2020).

Berdasarkan data yang diterima detikcom, total kasus yang berhasil diungkap sepanjang 2020 ini sebanyak 41.093 kasus dengan total tersangka sebanyak 53.184 orang yang terdiri dari 53.118 WNI dan 66 WNA.

Terlihat, pemakaian sabu sejak Januari-November 2020 mencapai 5,91 ton pada tahun 2020 sedangkan di tahun 2019 hanya sekitar 2,7 ton. Kenaikannya mencapai 119 persen.

Selain sabu, beberapa narkoba jenis tembakau gorila turut alami peningkatan menjadi 139,92 kg di tahun 2020 dan 12,92 kg di tahun 2019. Sisanya, narkoba jenis ganja dan ekstasi justru malah menurun dibandingkan tahun sebelumnya dengan masing-masing 50,59 ton dan 905.425 butir.

Krisno tak merinci penyebab meningkatnya pemakaian sabu maupun tembakau gorila di kalangan masyarakat selama pandemi Covid-19. Namun, masyarakat yang biasanya mengkonsumsi benda haram tersebut di tempat hiburan kini berubah menjadi di rumah dan hotel.

“Yang luar biasa itu adalah peningkatan jumlah jenis narkotika sabu itu meningkat 119 persen karena pandemi naik 119 persen ada apa? tapi jumlah yang lain menurun toh, gorila juga naik banyak digunakan generasi muda, pelajar karena mereka suka mencoba barang yang baru,” ucapnya.

“Belakangan ini memang untuk tempat-tempat hiburan kita tahu karena pandemi samua tutup namun kita lihat bersama bahwa walaupun itu tutup tidak menutup kemungkinan itu bisa dikonsumsi jadi tidak hanya konsumsi harus terkait adanya hiburan ya bisa mungkin dikonsumsi di rumah di tempat lain, di hotel dan sebagainya,” sambungnya.

Terpisah, Direktur Tindak Pidana Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya pada Jampidum, Darmawel Aswar mengakui pihaknya menerima banyak berkas perkara terkait kasus narkoba jenis sabu. Biasanya, masyarakat memanfaatkan kurir online untuk mengedarkan maupun membeli narkoba.

“Kami dari kejaksaan juga banyak menerima berkas dari kepolisian dari BNN prinsipnya benar yang dikatakan pak Waka Bareskrim, sabu yang terbanyak,” ucapnya.

“Satu hal saya sampaikan karena pandemi Covid maka modus sekarang yang beredar sekarang adalah sistem dengan online artinya dikirim barang itu kemudian di beli dan modusnya seolah-olah beli sama-sama untuk persediaan di tempat. Padahal, sesungguhnya mereka berusaha untuk menumpuk,” lanjutnya.

Kemudian, Kejaksaan Agung (Kejagung) pun berkomitmen untuk menindak tegas para terdakwa narkoba. Hal ini dibuktikan melalui tindakan jaksa yang kerap menuntut terdakwa narkoba minimal seumur hidup penjara, maksimal hukuman mati.

“Kami dari kejaksaan berkomitmen khususnya narkoba setiap perkara yang masuk ke kami hampir rata-rata kami lakukan penuntutannya kalau tidak seumur hidup kalau tidak mati,” tegasnya.(dtc/bas)