Mutasi Covid-19 Setelah Vaksinasi Harus Dicermati

59

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Vaksinasi Covid-19 telah dimulai di Indonesia pada 13 Januari 2021, dengan para tenaga kesehatan sebagai prioritas penerima vaksinasi. Efektivitas vaksinasi Covid-19 menjadi poin penting dalam pencegahan dan pengendalian penyebaran virus Covid-19.

Dalam literasinya, guru besar di Universitas Airlangga Chairul Anwar Nidom menerangkan, salah satu tantangan besar dalam vaksinasi adalah mutasi virus. “Mengingat virus Covid-19 berstruktur RNA yang mudah bermutasi,” ujar dia dalam keterangan tertulis.

Protein S (spike) Covid-19 sebagai pengantar masuknya virus ke sel manusia menjadi target utama pengembangan vaksin sekaligus analisis mutasi virus. Pola mutasi protein S yang terjadi sampai dengan 12 Januari 2021 meliputi A222, S477, D614, Q677.

Informasi pola mutasi tersebut dituangkan dalam jurnal ilmiah oleh Grup Peneliti Professor Nidom Foundation (PNF) dengan judul “An Update Investigation Prior To Covid-19 Vaccination Program in Indonesia: Full-Length Genome Mutation Analysis of SARS CoV-2” dan dipublikasikan bioRxiv pada 27 January 2021.

“Selain mutasi berdampak pada efektivitas vaksinasi, juga sebaliknya vaksinasi dapat memicu terjadinya mutasi virus,” tutur Nidom.

Mutasi D614G menyebabkan peningkatan virulensi dan jumlah titer virus dalam darah serta dicurigai berperan dalam peningkatan pengikatan virus pada sel manusia dan peningkatan risiko terjadinya Antibody Dependent Enhancement (ADE).

Ketua tim Laboratorium Professor Nidom Foundation itu juga menjelaskan, mekanisme lain mutasi ke bentuk D614G dapat melalui antibody escape yang difasilitasi oleh antigenic drift.

Jika mutasi D614G berdampak pada sensitivitas neutralizing antibody atau aktivitas ADE yang diamati dalam studi virus SARS, mutasi D614G dapat menyebabkan kuatnya ikatan dengan reseptor ACE2.

“Sehingga seseorang lebih mudah terinfeksi untuk yang kedua kalinya serta juga berpengaruh pada kecepatan penularan, jumlah dan keparahan penyakit,” kata Nidom.

Tim PNF, telah mengidentifikasi mutasi D614G yang ditemukan pada 103 isolat Indonesia yang tersebar di berbagai daerah mulai dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Data peta sebaran Covid-19 ini beserta mutasi yang lain, dapat dijadikan informasi dasar dalam membandingkan pola mutasi.

“Yang selanjutnya dapat digunakan untuk kebijakan tindakan pencegahan dan konstruksi vaksin berbasis isolat lokal,” ujar Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak itu.

Menurutnya, vaksin memang bukan satu-satunya intervensi untuk menekan angka kejadian Covid-19. Intervensi non-medis yang juga tak kalah penting, kata dia, adalah tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan yaitu dengan menjalankan 5M.

Selain itu, profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu juga menerangkan pengukuran terhadap titer antibodi pasca vaksinasi juga perlu dilakukan. Tujuannya agar antibodi yang dihasilkan oleh vaksinasi diketahui kadarnya dan kemampuan proteksi terhadap virus lapangan.

“Akhirnya intervensi medis maupun nonmedis merupakan bagian penting yang harus dilakukan secara terukur untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia,” katanya menambahkan.(tmp/bas)