MUI : Hakekok Balatasutak Aliran Menyimpang

145

Beritaindonesiasatu.com, Pandeglang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pandeglang menyatakan aliran Hakekok Balatasutak sebagai ajaran yang menyimpang dari Islam. Para anggota aliran tersebut kini tengah menjalani pertaubatan di Pondok Pesantren Cidahu, Pandeglang, Banten.

“Fatwa tetap diberlakukan fatwa, ini aliran yang menyimpang. (Untuk) pembinaan tergantung, mudah-mudahan mereka segera mendapatkan hidayah,” kata Ketua MUI Pandeglang, Tubagus Hamdi Ma’ani, Selasa (16/3).

Hamdi mengatakan para anggota Hakekok Balatasutak juga diwajibkan membuat surat pernyataan tak akan mengulangi perbuatannya dan menyebarkan ajaran tersebut.

Menurutnya, para pengikut ajaran tersebut terancam hukuman pidana apabila masih menjalankan berbagai ritual dan menyiarkannya.

“Kalau dia mau kembali ke jalan yang benar, kita bina. Tidak hanya ikrar, tapi juga membuat surat pernyataan. Baru kita lakukan pembinaan lebih detil. Ini menyimpang, perlu kita luruskan,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Pandeglang, AKBP Hamam Wahyudi mengatakan pihaknya tak melanjutkan proses hukum terhadap anggota aliran Hakekok Balatasutak. Pembinaan terhadap 16 anggota aliran tersebut dilakukan pondok pesantren.

“Proses hukum tidak kita lanjutkan, dengan alasan Bakorpakem menyatakan mereka diperlukan pembinaan terhadap 16 orang tersebut. Saat ini pembinaan itu kami serahkan kepada salah satu ponpes,” kata Hamam.

Dilansir CNNIndnesia, Hamam mengatakan pimpinan Hakekok Balatasutak, A (52) meneruskan ajaran orang tuanya, ED. Pimpinan ajaran tersebut diyakini oleh pengikutnya sebagai pemberi keselamatan dunia akhirat dan dikenal dengan sebutan amal sepih.

Dahulu, A dan ED tinggal di wilayah Bogor, Jawa Barat. Mengembangkan dan menyebarkan ajaran di wilayah tersebut. Sasarannya selama ini masyarakat kurang mampu, yang minim dalam kehidupan sosial, ekonomi dan pendidikannya.

“(Pengikut aliran) mereka kehidupan sosialnya juga sangat minim, mereka ini petani tapi tidak pasti dan mereka numpang tempat tinggalnya disana (Cigeulis). Mereka mencari ikan juga,” ujarnya.(bas)