Modus Kotak Amal, Teroris Kumpulan Dana Miliaran

67

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Modus pengumpulan dana teroris melalui kotak amal terbilang anyar. Dana masyarakat disalahgunakan. Diduga demi kepentingan merancang aksi teror. Gerakan ini semakin masif dengan ditemukannya 13.000 kotak amal tersebar di minimarket maupun di pusat perbelanjaan lain.

Dukungan logistik dan pendanaan memang menjadi persoalan krusial bagi tiap kelompok teroris di Indonesia. Beragam modus selama ini kerap digunakan. Mereka selalu berusaha menemukan dan menempuh berbagai jalan.

Regional Head for Counter-Terrorism Financing and Anti-Money Laundering di IACSP Southeast Asia, Garnadi Dharmaputra, mengatakan penggalangan dana lewat kotak amal yang diletakkan di minimarket maupun pusat belanja menunjukkan fleksibilitas pengumpulan dana oleh kelompok teroris. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan dana langsung untuk kegiatan kelompok.

Dalam penelitian dilakukan pihaknya, sejauh ini kelompok teroris memang mendapatkan pendanaan lewat lembaga penggalang dana masyarakat berkedok gerakan kemanusiaan. Hal ini tentu sudah masuk dalam radar dan pengawasan lembaga berwenang. Sebut saja, PPATK, OJK, Kemendagri, dan tentu saja Polri.

Melihat modus tersebut, lanjut dia, penggalangan dana lewat kotak amal sebenarnya bukan merupakan cara yang benar-benar baru. Polisi bisa saja sudah mengendus praktik ini sejak lama. Sama halnya dengan lembaga amal berkedok gerakan kemanusiaan, polisi memerlukan bukti yang kuat untuk melakukan penindakan.

“Apakah ini benar-benar digunakan untuk aksi teror? Itu kuncinya. Bagaimana pembuktian terhadap hal-hal ini,” kata Garnadi kepada Merdeka.com, pekan lalu.

Mabes Polri mencatat sejumlah daerah yang menjadi tempat penyebaran kotak-kotak amal tersebut. Masih merupakan temuan polisi, kotak-kotak amal disebarkan oleh Yayasan ABA (Abdurahman bin Auf). Kota-kota yang sudah menjadi tempat berjalannya praktik tersebut, antara lain, Medan, Lampung, Jakarta, Temanggung, Solo, Semarang, Pati, dan Yogyakarta.

Selain itu juga tersebar di Magetan, Surabaya, Malang, Ambon, Lombok. Selanjutnya ada kotak-kotak amal juga tersebar di Lampung, maupun Sumatera Utara. Terkait daerah-daerah ini serta adanya kemungkinan kotak-kotak amal juga tersebar di daerah lainnya, masih didalami.

Brigadir Jenderal Awi Setiyono, yang ketika dihubungi masih menjabat sebagai Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri mengatakan, sejauh ini polisi sudah mengamankan tiga orang. Tiga orang tersebut, yakni FS selaku ketua Yayasan, RW selaku Bendahara, dan DN selaku pengurus kotak amal di wilayah Lampung.

“Untuk kepengurusan Yayasan BM ABA dan ternyata juga masuk ke dalam struktur organisasi teror Jamaah Islamiyah,” ujarnya kepada Merdeka.com, Senin, 7 Desember 2020

Sementara itu, Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mengatakan, ruang publik dapat dimanfaatkan berbagai pihak tak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungan. Termasuk para kelompok teroris. Alhasil kepedulian sosial yang dimiliki masyarakat digunakan untuk tindakan-tindakan yang melanggar hukum.

Dalam pandangan dia, salah satu tantangan untuk menekan maupun memberantas berbagai praktik tersebut adalah lemahnya proses validasi banyak pihak yang dijadikan tempat penitipan kotak amal. Apalagi tidak ada aturan tegas bagi peredaran kotak amal di masyarakat.

“Kan tidak ada larangan. Kalau mungkin ngemis di perempatan ada larangan Pemda. Tapi untuk mengedarkan kotak amal di tempat-tempat, itu kan milik pribadi, minimarket itu kan milik pribadi sebenarnya. Selama mereka memberikan izin tidak ada masalah. Kecuali kotak amal di perempatan jalan. Dan itu bukan hanya kelompok Islam,” ucap Harits.(mrdk/bas)