Kisah Pilu Dua Sejoli Gagal Menikah Karena Kecelakaan

99

Beritaindonesiasatu, Sergai – Dua sejoli yang tewas akibat kecelakaan lalulintas di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Km 38-39 kawasan Kelurahan Tualang Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) berencana menikah pada tanggal 31 Januari 2021 mendatang.

Hal ini sesuai dengan kesepakatan masing-masing keluarga kedua belah pihak. Namun tragis, Suharianto (28) dan tunangannya Irma Yunita (23) tewas pada Minggu, (13/12/2020).

“Mereka itu sebenarnya mau pergi ke Medan. Mereka sama-sama kerja di Medan. Karena ada acara antaran hari Minggu itu makanya mereka datang. Itulah disepakati tanggal 31 acara pestanya maksudnya karena itulah hari baiknya kita lihat. Udah gitu pun pihak laki-laki minta dibulan Januari bisanya,” ucap Miswan ayah Irma Yunita Selasa, (15/12/2020).

Saat ditemui di rumahnya di Desa Sei Jenggi Kecamatan Perbaungan Miswan yang akrab disapa Iwan pedagang bandrek sempat meneteskan air mata menceritakan awal mula ia mendapat kabar kematian anaknya.
Miswan menunjukkan foto masa hidup anaknya dan tunangannya Selasa, (15/12/2020).
Miswan menunjukkan foto masa hidup anaknya dan tunangannya Selasa, (15/12/2020). (Indra Gunawan / Tribun Medan)

Disebut musibah itu hanya terjadi beberapa menit setelah korban meninggalkan rumah. Ia menyebut pertama kali hanya mendapat informasi dari menantunya.

“Menantu saya yang perempuan bilang saat itu macet di Tualang karena ada kecelakaan. Dia enggak tau siapa yang kecelakaan. Di situ saya kok punya firasat sama anak saya karena mereka belum lama pergi pamitan dari rumah. Itulah langsung kutelponi yang laki-laki tapi dijawab sama orang lain dan cuma bilang, kenal sama orang ini, orangnya di rumah sakit Melati Perbaungan,” ucap Miswan sambil menirukan perkataan orang lain.

Ketika itu juga, lanjut Miswan ia pun langsung bergegas ke rumah sakit Melati. Pada saat itu ia melihat kalau anaknya Irma Yunita masih kritis. Sementara itu Suharianto sudah berada di kamar jenazah.

“Enggak tau lagi aku jam berapa kejadiannya. Sekitar satu jam aku di rumah sakit meninggal lah anak ku ini. Dia itu anaknya rajin dan baik kali. Dari tamat sekolah dia langsung kerja bantu orang tua. Dia kerja di toko buku di Medan. Kalau luka berdarah enggak ada sebenarnya kulihat mungkin luka dalam dialaminya,” kata Miswan.

Ia mengaku ia beserta keluarganya yang lain sama sekali tidak ada melihat gelagat aneh dari keduanya. Setelah Malam Minggu anaknya itu tiba di rumah sama sekali tidak ada keanehan.

Ia dan keluarganya juga sama sekali tidak ada mimpi apa-apa.

“Pas mau pergi itu cuma dibilang anak ku ini cepat nanti hujan. Udah gitu aja enggak ada yang aneh-aneh. Dia kalau pulang ke rumah sekitar satu bulan sekali gitu. Udah sekitar setahun lalu dia tunangan makanya mau nikah,” kata Miswan.

Miswan sempat memohon izin untuk menghentikan sesi wawancara saat itu. Ketika disinggung soal pemakaman ia pun menangis dihadapan www.tribun-medan.com.

Ia hanya menyampaikan saat itu ada topik pembicaraan agar pemakaman dilakukan secara berdampingan saja namun pada akhirnya pemakaman dilakukan di tempat kediaman masing-masimg.

Suharianto sendiri dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Simalungun.

“Kalau anak saya dimakam kan di sini lah. Udah lah ya,” katanya tidak sanggup melanjutkan sesi wawancara.

Dari pantuan dua unit tenda pun masih terpasang di halaman rumah Miswan. Disebut sebelumnya sudah dilakukan acara tahlilan dan akan dilanjutkan malam kedua dan ketiga.

Karena musibah yang terjadi dadakan para keluarga Miswan pun ada yang baru sempat datang untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa.

Dilansir tribunmedan saat itu Miswan dan istrinya Butet diminta untuk bisa bersabar menghadapi musibah ini. Korban Irma merupakan anak ke empat dari lima orang bersaudara.(trb/bas)