Kisah Penyintas: Rajin Olahraga, Tidak Merokok, Masuk ICU Karena Covid-19

33

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Seorang warganet di media sosial Twitter berbagi kisah selama 17 hari dirawat intensif di rumah sakit karena terinfeksi Covid-19.

Akun @sampinggenic adalah seorang yang rajin berolahraga, bahkan seminggu bisa sampai enam kali. Dia juga tak merokok dan tak punya masalah dengan pernapasan, namun harus dirawat intensif di rumah sakit.

Cerita ini dimulai pada 17 November 2020, dirinya merasa demam. Sekitar 37,6 derajat celcius. Kemudian minum obat pereda demam dan berhasil turun.

Selanjutnya, saat lari pagi pada 20 November, napasnya mulai terganggu. Batuk dan demam hingga 38-41 derajat. Di sinilah dia mulai berobat ke rumah sakit.

“Di screening CT thorax dua paru-paru sudah bercak putih, lalu diswab dengan hasil positif Covid-19. Setelah menunggu 30 jam, Selasa 22 November 2020 dirujuk ke RSPP Modular Simprug,” katanya.

Dia merasakan gejala batu dan demam semingu pertama setelah dinyatakan positif. Napas pun terbatas. Kemudian dipasang selang oksigen, karena saturasi semakin buruk di bawah 90 persen. Sampai akhirnya, tim dokter memutuskan untuk memindahkannya ke ruang ICU.

Seminggu pertama demam tiap hari. Batuk semakin menjadi, sedikit batuk darah. Nafas makin cepet, tarik nafas panjang pun gak sanggup. Pasang selang oksigen, karna saturasi semakin buruk dibawah 90%.

Mentalnya mulai down. Wajar, ini untuk pertama kalinya dia dirawat di rumah sakit, bahkan sampai pakai kateter dan selang oksigen.

Dia pun merasa takut, bingung dan sedih. Kenapa harus masuk ruang ICU. Namun dia mampu melawan rasa takutnya itu dengan mencoba melakukan hal-hal yang dianggap bisa menghibur diri. Tujuannya agar tak semakin drop.

“So, I was so close to die but I don’t wanna die anytime soon. Berusaha mencerna menerima situasi, akhirnya memutuskan untuk fight mencoba optimis dan menggila menghibur diri supaya imun tubuh gak makin drop,” tulis dia.

Usahanya pun berhasil dengan baik. Setelah 11 hari berada di ICU, kondisinya membaik. Dia pun kembali ke ruang perawatan. Hasil swabnya pun telah negatif Covid-19.

“Pelajaran berharga yang gue dapat adalah sabar. Gue pikir gue sudah orang paling sabar, ternyata belum. Benar-benar yang diuji adalah kesabaran dan mental. Kalau lo enggak sabar dan mental lo enggak kuats udah pasti enggak ketolong,” ceritanya.

Dia pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para tenaga kesehatan yang merawatnya selama 17 hari di rumah sakit. Tidak terkecuali, terima kasih kepada teman-temannya yang sudah mendukung penuh untuk membantunya selama menjalani perawatan.

Dikansir merdeka.com, dia tak tahu dari mana virus tersebut berasal sehingga dirinya bisa terinfeksi. Sebab, kegiatannya tak pernah keluar kota dan keluar rumah. Kalaupun keluar hanya olahraga dan membeli kebutuhan pokok saja.

“Buat yang masih mengira Covid ini konspirasi atau bohong, mungkin kalian harus kena dan ngerasain dulu baru menyadarinya. Covid is real,” katanya.(mrd/bas)