Kesehatan 25 Juta Anak Terancam Akibat Covid-19, PB IDI Dorong 2 Hal Ini

95

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia hingga saat ini masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Hal ini membuat operasional Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) terdampak sehingga bisa mengancam kesehatan 25 juta anak Indonesia.

“Memang kalau kita lihat kasus Covid-19 di Indonesia ini belum menunjukkan kapan puncaknya. Jadi ini kelihatannya masih naik berlangsung, bahkan bulan September ini. Kita memang berharap Covid-19 ini bisa kita selesaikan bersama, tetapi realitanya masih terus meningkat,” Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Daeng M Faqih dalam konferensi pers “Seruan Selamatkan 25 Juta Anak Indonesia” yang digelar secara virtual, Kamis (1/10/2020).

Daeng mengungkapkan, harus ada upaya yang ekstra agar Covid-19 ini bisa ditekan bahkan dihentikan. “Saya sangat setuju dampak Covid ini luar biasa. Dimensinya bukan hanya dimensi kesehatan, tapi dimensi yang lebih besar dari kehidupan masyarakat kita,” ujarnya

Daeng mendorong pemerintah melakukan dua hal, yaitu menangani Covid-19 dengan baik serta melanjutkan pelayanan kesehatan yang sudah ada seperti Puskesmas dan Posyandu agar tetap berjalan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

“Untuk di bidang kesehatan dengan dampak yang luar biasa kepada anak dan kesehatan ibu, mau tidak mau kita semua bersama pemerintah melakukan upaya sekaligus dua hal. Pertama melakukan penanganan Covid-19 dengan baik karena infeksinya pada anak ini vital, luar biasa mungkin yang lebih tinggi dari negara lain. Kedua yang lebih penting pelayanan kesehatan yang sudah berjalan itu kita langsungkan,” tutur Daeng.

Ia juga telah mendapatkan laporan, saat ini di daerah kegiatan-kegiatan Posyandu dan Puskesmas menurun karena banyak warga enggan datang ke sana lantaran khawatir tertulan Covid-19.

“Ini yang harus kita carikan upaya bersama, agar upaya-upaya kesehatan masyarakat di Posyandu dan Puskesmas tetap bisa berjalan. Seraya penanganan Covid tetap dilakukan,” ucapnya.

Selain itu, Daeng mengatakan, harus ada strategi untuk penguatan Puskesmas dan Posyandu.

“Ini yang mungkin perlu kita dorong pemerintah karena kami tidak tahu strategi apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk penguatan kesehatan masyarakat khususnya pelayanan di Puskesmas dan Posyandu di tengah Covid,” ujarnya.

“Kalau ini tidak kita pecahkan bersama, kami memang sangat khawatir Covid-nya terus meningkat kemudian kebutuhan-kebutuhan pelayanan masyarakat, indikator-indikator standar pelayanan maksimal di Puskesmas akan menurun. Kalau ini terjadi dampak kesehatan masyarakat berikutnya itu akan menjadi masalah bagi kita sendiri,” tutur Daeng.(okz/ba)