Kelompok JI Disebutkan Mulai Go Public, Utus Anggota Tiap Daerah

68

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Polri mengungkapkan kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) mulai terjun ke masyarakat atau go public. Hal itu dilakukan untuk mendanai kegiatan kelompok mereka.

“Untuk organisasi teroris khususnya Jamaah Islamyiah, saat ini mulai berusaha untuk go public karena semakin sulitnya mengumpulkan dana jika hanya lewat infaq anggota, maupun ikhtisod (jumlahnya tidak pasti dan tidak selalu ada),” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono melalui keterangan tertulis, Kamis (17/12/2020).

Argo lantas menerangkan kelompok JI mengirimkan utusan yang tak pernah berurusan dengan polisi untuk terjun ke masyarakat. Kelompok JI juga memilih utusan yang namanya bersih dari berita acara pemeriksaan (BAP) polisi.

“Untuk Jamaah Islamiyah, pemilihan anggota Jamaah Islamiyah yang mengemban tugas untuk go public memiliki persayaratan seperti namanya masih bersih dari keterangan BAP anggota yang sudah ditangkap, dan biasanya sudah vakum dalam waktu yang cukup lama,” jelas Argo.

Argo sebelumnya mengungkapkan kelompok JI mengumpulkan dana dari kotak amal dan juga dari yayasan. Ada dua tipe yayasan yang menjadi sumber pengumpulan dana kelompok JI, di antaranya yakni yayasan pengumpulan infaq umum yakni dengan menggunakan metode kotak amal, dan yayasan pengumpul infaq khusus yakni metode pengumpulan dana yang dilakukan secara langsung.

Berikut Yayasan-Yayasan bentukan Jamaah Islamiah:

  1. Yayasan pengumpul infaq umum (metode kotak amal) memiliki persyaratan:
  • Harus terdaftar di Kemenkumham sebagai legalitas yayasan dan untuk syarat untuk mengeluarkan ijin BAZNAZ
  • Harus terdaftar di BAZNAZ sebagai legalitas pengumpulan Infaq secara masif/umum
  • Terdaftar di KEMENAG untuk legalitas kegiatan dan membangun kepercayaan umat islam di Indonesia dan tidak melenceng dari aturan kenegaraan, (setiap tahun dilakukan audit/survei oleh Kemenag)
  • Contoh yayasan : ABA dan FKAM
  1. Yayasan pengumpul infaq khusus (pengumpulan secara langsung) yaitu:
  • Metode pengumpulan infaq yang dilakukan pada saat acara tertentu seperti tablig akbar.
  • Hanya memerlukan SK Kemenkumham untuk legalitas dan tidak perlu ijin BAZNAZ dan Kemenag karena pengumpulan tidak secara terus menerus melainkan berkala.
  • Program Jamaah Islamiah di antaranya adalah pengumpulan dana untuk bantuan Suriah dan Palestina yang mana uang Infaq dikumpulkan dengan cara membuat acara acara tablig yang menghadirkan tokoh-tokoh dari Suriah atau Palestina dan uang Infaq diambil dari para peserta tablig.
  • Biasannya kurang transparansi jumlah uang infaq yang terkumpul yang di munculkan ke publik karena tidak ada lembaga Auditor
  • Contoh Yayasan yaitu SO (Syam Organizer), OC (One Care), HASHI, HILAL AHMAR.

Dari data tersebut, ada sebanyak 20 ribu lebih kotak amal Yayasan Abdurrahman Bin Auf (ABA) yang diduga sebagai sumber pendanaan kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) yang tersebar di sejumlah wilayah di Tanah Air. Hal itu terungkap dari hasil pemeriksaan salah satu tersangka FS alias Acil.

Berikut daftar sebaran kotak amal Yayasan Abdurrahman Bin Auf (ABA) yang diduga digunakan jaringan teroris JI:

  1. Sumatera Utara: 4.000 kotak
  2. Lampung : 6.000 kotak
  3. Jakarta : 48 kotak
  4. Jawa Tengah
  • Semarang : 300 kotak
  • Pati : 200 kotak
  • Temanggung : 200 kotak
  • Solo : 2000 kotak
  1. DI Yogyakarta : 2000 kotak
  2. Jawa Timur
  • Magetan : 2000 kotak
  • Surabaya : 800 Kotak
  • Malang : 2500 kotak
  1. Maluku
  • Ambon : 20 kotak

Sebelumnya, sejumlah fakta terungkap usai penangkapan salah satu aset berharga Jamaah Islamiyah (JI), Taufik Bulaga alias Upik Lawanga. Polisi menyebut JI menyalahgunakan dana kotak amal di minimarket untuk kepentingan terorisme.

“Polri juga menemukan bahwa JI memiliki sejumlah dukungan dana yang besar di mana dana ini bersumber dari Badan Usaha milik perorangan, atau milik anggota JI sendiri dan penyalahgunaan fungsi dana kotak amal yang kami temukan terletak di minimarket yang ada di beberapa wilayah di Indonesia,” imbuh Awi, Senin (30/11).(dtc/bas)