Kegiatan Belajar Tetap Muka di Surabaya Dinilai Dipaksakan

39

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah mendesak agar kegiatan belajar tatap muka di seluruh sekolah di Surabaya tidak dipaksakan. Pihaknya tidak ingin aktivitas belajar-mengajar memicu terjadinya klaster baru penularan COVID-19.

“Saya teringat beberapa waktu lalu puluhan guru terpapar Corona saat memaksakan masuk sekolah. Apalagi nanti bareng siswa. Mari disiplin dan jangan gegabah memaksakan tatap muka digelar Desember,” kata Laila dalam keterangan tertulis, Jumat (26/11/2020).

Politisi perempuan PKB ini meminta Pemkot Surabaya bisa menghargai semua warga yang sudah mulai nyaman di tengah pandemi yang berangsur terkendali. Dia meminta pelaksanaan belajar tetap muka di sekolah untuk semua jenjang dimulai Januari.

Sambil menuntaskan semua persiapan dengan baik, seluruh siswa SD dan SMP baik negeri maupun swasta bisa memulai belajar tatap muka di sekolah. “Apalagi Desember juga ada gawe besar Pilwali,” Laila mengingatkan.

Ia bisa memahami kerinduan siswa akan sekolah. Selain belajar lebih efektif, siswa senang bisa bertemu teman sekelas sebaya. Orang tua juga tak direpotkan menyediakan kuota dan menemani anak sekolah daring.

Namun keselamatan dan kesehatan siswa, guru, dan seluruh pegawai dan karyawan sekolah bersama keluarganya jauh lebih penting. Laila kaget ada kebijakan yang diterapkan Pemkot Surabaya bahwa belajar mengajar atau tatap muka di sekolah sudah akan dimulai awal Desember 2020.

“Kenapa tidak sekalian bersamaan saja pada Januari. Apalagi daerah lain termasuk jenjang SMA/SMK juga memulainya baru Januari. Saya mendapat laporan saat ini Corona di Surabaya kembali meningkat,” kata Laila.

Wakil Ketua DPRD ini tidak menolak bahkan mendukung kebijakan dimulainya belajar tatap muka di sekolah. Apalagi sudah ada surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri yakni Mendikbud, Menteri Agama, dan Mendagri terkait dimulainya belajar tatap muka di sekolah.

Namun kesehatan guru, siswa, karyawan sekolah, dan semua warga menurut Laila menjadi prioritas utama. Dia meminta Pemkot Surabaya lebih dulu mempersiapkan diri dengan budaya atau kenormalan baru sesuai protokol kesehatan. Saat dimulai belajar mengajar semua sudah siap utuh. Termasuk alat pelindung diri (APD) sebagai perlengkapan wajib ke sekolah.

“Dinas Pendidikan wajib hukumnya menyediakan thermo gun, hand sanitizer, pencuci tangan, dan bila perlu menyediakan masker bagi siswa yang tidak punya masker,” kata Laila.

Sebagaimana yang sudah disampaikan Pemkot Surabaya melalui rilis resmi bahwa belajar tatap muka akan dimulai Desember 2020. Diawali khusus untuk kelas 9 atau kelas 3 lebih dulu. Baru setelahnya Januari diikuti kelas VIII dan VII.

Mereka mengawali persiapan itu dengan menggelar tes swab massal kepada siswa kelas IX atau kelas 3 SMP. Tes swab ini dilakukan pada siswa baik dari sekolah negeri maupun swasta se-Surabaya, termasuk semua guru dan karyawan.

Laila mengapresiasi langkah praktis dan taktis digelarnya tes usap tersebut. Dia mendukung penuh. Namun ada baiknya menunggu hingga Januari saja. Sambil menggelar tes yang sama untuk kelas VII dan VIII sebelum serentak masuk Januari.

“Saya lebih setuju kalau pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar atau tatap muka di sekolah digelar dimulai Januari. Bukan dimulai Desember besok. Ingat ada Pelaksanaan Pilwali Desember ini,” tandas Laila.

Laila mengungkapkan jika pihaknya sudah mengkaji lebih jauh manfaat dan ruginya jika belajar tatap muka digelar Desember. Selain perlu persiapan dengan jumlah siswa mencapai puluhan ribu juga menyangkut keselamatan dan kesehatan bersama.

Dia tetap berharap agar Pemkot Surabaya tidak memaksakan diri menggelar kegiatan belajar mengajar dimulai Desember. Meski hanya untuk kelas IX itu cukup rentan. Terlebih ada kegiatan besar Pilwali.

Semua kegiatan dan persiapan belajar tatap muka di tengah pandemi yang belum berakhir jangan sampai dipolitisasi. Laila percaya dengan kinerja aparatur sipil pemerintah di Pemkot Surabaya untuk menjaga pesta demokrasi Pilwali Surabaya agar tetap bermartabat.

“Saya sudah punya gambaran saat berkunjung ke Sragen yang konon jauh lebih siap menggelar tetap muka. Semua peralatan pendukung untuk protokoler kesehatan semua dicukupi Pemda di sana. Tidak ada salahnya ditiru. Mereka juga baru memulai tatap muka Januari,” urai Laila.(dtc/bas)