Guru Honorer Dipecat, Gegara Posting Gaji

73

Beritaindonesiasatu, Bone – Kasus guru honorer SDN 169 Sadar, Hervina (34), yang diberhentikan gara-gara memposting gajinya Rp 700 ribu di media sosial (medsos) telah mendapat atensi dari berbagai pihak.

Ditemui di kediamannya Hervina , di Desa Sadar, Kecamatan Tellu limpoe, Minggu (14/2/2021). Detikcom harus melalui perjalanan memutar panjang melewati sebagian wilayah Kabupaten Soppeng, hingga perbatasan Kabupaten Barru yang kemudian masuk ke jalur pedalaman untuk sampai di desa di Kabupaten Bone itu.

Tiba di SDN 169 Sadar, di Dusun Lakariki, Desa Sadar, Tellu Limpoe, kondisi sekolah nampak sunyi tak berpenghuni. Sekolah bersatus satu atap ini juga ikut menjalani sistem belajar online sejak Januari lalu saat Pandemi COVID-19 melanda. Para guru pun hanya diwajibkan datang sekali seminggu ke sekolah ini.

“Kondisinya masih agak syok,” kata Asdar, Suami Hervina.

Asdar mengatakan, pasca diberhentikan, Istrinya ini banyak berdiam diri di rumah dan fokus pada kesehatannya. Untuk diketahui, Hervina saat ini juga tengah berjuang melawan kanker payudara yang dideritanya.

Saat diwawancara detikcom, Hervina pun bercerita tentang kisah awal dia bergabung sebagai guru honorer 2005 silam. Kala itu, kata dia, cukup susah mencari tenaga pengajar asal daerah tersebut. Kepala sekolah yang menjabat saat itu adalah Jumrang, yaitu suami Kepala Sekolah yang menjabat saat ini.

“Saat itu, saya baru lulus SMA dan belum ambil ijazah. Kepala Sekolah meminta saya untuk ikut membantu mengajar. Saya mengajar bersama 1 guru honor lain dan 1 PNS, yaitu Kepala Sekolah. Dan kemudian saya mengajar di Kelas 1 SD, pernah juga di kelas 2,” tutur Hervina.

Profesi sebagai pengajar diakui sebagai pekerjaan mulia yang amat dicintainya, meski hanya berstatus sebagai guru honorer. Dia pun mengaku sempat ke Kalimantan pada 2014 silam lantaran ikut suami yang bekerja di sana. Dia kemudian kembali ke kampung halaman di tahun 2017.

“Saya ke Kalimantan ikut suami waktu itu. Sekitar tahun 2014 dan kembali lagi tahun 2017,” ungkap Hervina.

Dia pun mengaku kembali masuk mengajar karena menganggap namanya masih ada dalam daftar guru dan pihak sekolah pun masih menerima. Sakit kanker payudara yang kerap kambuh tidak membuatnya putus asa dan berhenti sebagai guru honorer.
Saat Pandemi melanda sejak tahun 2020 lalu. Hervina mengaku aktif mengajar. Kadang, ia juga membuat kelas khusus bagi para murid yang mau datang belajar di rumahnya.

Jadi awal-awal Pandemi 2020 lalu, banyak orang tua kebingungan, katanya sekolah tutup. Jadi dia singgah ke rumah, dia minta anaknya di ajar, jadi belajar disini,” tutur Hervina.

Hingga saat ini, Hervina mengaku masih membutuhkan pekerjaannya sebagai guru. Dia berharap bisa kembali mengajar di SD itu sebagai wujud baktinya sebagai Putri asli daerah Desa Sadar.

“Jika masih diizinkan kembali, saya siap. Namun jika sudah tidak bisa lagi, yah mau di apa,” ungkap Hervina.(dtc bas)