Fahri Hamzah akui 2 Kali Ekspor Benih Lobster Rugi Rp380 Juta

48

Beritaindonesiasatu, Jakarta — Politikus Partai Gelora Fahri Hamzah mengaku merugi ratusan juta selama dua kali melakukan ekspor benih lobster alias benur sejak pembukaan keran ekspornya oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.
Hal itu diungkapkan Fahri, yang juga merupakan Komisaris PT Nusa Tenggara Budidaya, salah satu perusahaan eksportir benih lobster, di program Mata Najwa di Trans7 bertajuk ‘Menteri Terjaring Lobster’, Rabu (25/11) malam.

Dalam tayangan itu, awalnya pembawa acara Najwa Shihab bertanya kepada Fahri ihwal pendirian perusahaan tersebut.

“Saya cek akta baru 2 Mei 2020, itu dua hari sebelum Permen (Peraturan Menteri) KKP soal kebijakan ekspor keluar?” tanya Najwa.

“Iya tapi diurusnya sudah lama, karena kita tahu kan keputusan akan keluar, kan ini public policy harus open dia. Harus terbuka,” jawab Fahri.

Mendengar jawaban itu, Najwa kembali bertanya pada Fahri.

“Jadi karena tahu boleh ekspor benih lobster anda membuat PT?” tanya dia.

“Iya, memang cara kerja hubungan antara negara dengan pasar begitu. Pasar melihat apa sikap negara lalu pasar antisipasi,” jawab Fahri.

Tidak hanya menjelaskan soal pembentukan perusahaannya, Fahri juga menjelaskan untuk mendapatkan izin ekspor, ada sekitar 30 syarat administrasi yang dinilai pemerintah.

“Ada 30 checklist yang dinilai oleh pemerintah dari administrasi, misal sebelum kita ajukan izin kita harus punya nelayan binaan yang dikategorikan dalam dua, nelayan penangkap dan nelayan budidaya,” jelas Fahri.

Usai Fahri menjelaskan hal itu, Najwa lalu kembali bertanya kepada Fahri mulai kapan melakukan proses ekspor.

“Bulan Juli lalu kita harus mulai belanja, belanja kan umurnya itu hanya dua sampai lima hari itu, harus segera dikirim, kalau berubah warnanya harganya jatuh, kalau nelayan dia enggak ada rugi karena dia jual putus,” kata Fahri.

“Pengiriman pertama tanggal 16 Juli, rugi, saya pantau harga, saya cek rugi, lumayan lah buat pensiunan berat juga itu,” imbuh Fahri.

Dalam penjelasannya, pada pengiriman pertama itu, Fahri mengaku rugi sekitar Rp200 juta. Sementara pada pengiriman kedua, ia mengaku rugi sekitar Rp180 juta.

“Saya bilang udah setop, ini pasti ada masalah di tata kelolanya begitu. Sejak Juli, Agustus, September, Oktober, November, sekarang itu sudah enggak ada operasi, karena menurut saya kalau diteruskan tentu kita enggak kuat darimana uang kita,” cetus dia.

Diketahui, hari ini, Rabu (25/11), Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersama belasan orang lainnya ditangkap KPK terkait kasus dugaan korupsi izin ekspor benih lobster.

Sebelumnya, nama sejumlah politikus disebut-sebut terkait dengan sejumlah perusahaan yang mendapat izin ekspor benih lobster, termasuk Fahri dan sejumlah petinggi Partai Gerindra.(cnn/bas)