Di Bully, Pria di Jatim Bunuh Bapak Ibu Hingga Bakar Teman

58

Beritaindonesiasatu, Surabaya – Sepanjang tahun 2020 terdapat kasus pembunuhan yang menyita perhatian. Selain mendapat atensi khalayak, pembunuhan tersebut juga dianggap sadis

Ada tiga kasus pembunuhan yang mengundang atensi masyarakat. Pertama adalah tukang bubur yang menggorok bapak dan ibunya di Mojokerto. Kedua adalah pembunuhan ibu mertua (mantan) Sekkab Lamongan. Dan ketiga adalah pria di Banyuwangi bunuh dan bakar teman gegara di-bully gendut.

Tukang Bubur Gorok Bapak dan Ibu

Sejumlah kasus pembunuhan menghebohkan masyarakat Mojokerto sepanjang 2020. Namun, ada satu kasus yang membuat semua orang menggelengkan kepala. Yakni seorang tukang bubur keliling yang tega menggorok kedua orang tua kandungnya.

Anak durhaka tersebut adalah Adi Muryadi Hermanto (28), warga Dusun Kuripan, Desa Jumeneng, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Di rumahnya yang sederhana, Adi tinggal bertiga dengan ibu dan bapak kandungnya. Yaitu pasangan Yasin (87) dan Muripah (63.

Di keluarganya, Adi merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Sehari-hari ia mencari nafkah dengan berjualan bubur seruntul dan pentol keliling dari kampung ke kampung. Bisnis ini dia warisi dari bapaknya.

Menjelang akhir September lalu, Adi sudah bosan dengan pekerjaannya tersebut. Pemuda lajang bertubuh tambun ini ingin bekerja di pabrik kayu di Kabupaten Sidoarjo. Dia pun berniat berangkat bekerja pada Sabtu (26/9) malam.

Sembari ngobrol dengan Muripah di teras rumahnya, Adi berpamitan kepada ibunya tersebut. Ibu tiga anak itu melarang anak sulungnya berangkat malam itu. Karena dia khawatir dengan keselamatan anaknya. Saat itu sudah lewat pukul 20.00 WIB.

“Ibunya melarang tersangka (Adi) berangkat karena sudah malam, ibunya menyarankan besok saja berangkatnya,” kata Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander.

Muripah lantas tidur setelah mengakhiri obrolan dengan putranya. Tak lama kemudian, Adi ikut tidur di sebelah ibunya. Selain mereka berdua, Yasin juga sedang tidur di kamar yang sama.

Bak kesetanan, tiba-tiba mata Adi melotot ke arah Muripah. Pemuda bertubuh tambun ini langsung bangun dan membenturkan kepala ibu kandungnya ke dinding kamar. Dia lantas mengambil pisau dapur dari meja televisi setelah menendang tubuh Muripah.

Tanpa belas kasihan, Adi menggorok leher ibunya. Tidak hanya itu, tersangka juga menggorok bapaknya yang sedang tidur. Muripah pun berteriak meminta pertolongan warga. Sehingga warga sekitar berdatangan meringkus Adi.

Akibat kekejaman putranya, Muripah menderita luka robek di dagu kanan sekitar 10 cm, di dagu kiri sekitar 5 cm, luka robek di leher, dada, ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri, serta luka memar di kepala. Dia tewas setelah dirawat 4 hari di rumah sakit, Rabu (30/9) pukul 18.00 WIB.

Sedangkan Yasin menderita luka robek di pipi kiri sekitar 7 cm, di leher sekitar 10 cm, serta dua luka robek di dada. Korban berhasil pulih dari luka-luka tersebut.

“Motifnya tersangka sudah tidak mau menjadi tukang bubur lagi, dia minta bekerja di Sidoarjo. Sementara orang tuanya tidak berkeinginan demikian. Akhirnya muncullah emosi, tersangka ini akhirnya melakukan penganiayaan terhadap orang tuanya,” terang Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Rifaldhy Hangga Putra.

Kini Adi harus meringkuk di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya itu. Dia dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan subsider Pasal 44 ayat (3) UU Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hukuman 15 tahun penjara sudah menantinya.

Pembunuhan Ibu Mertua (mantan) Sekkab Lamongan

Awal tahun 2020, publik Lamongan digegerkan dengan tewasnya ibu mertua (mantan) Sekretaris Kabupaten Lamongan Yuhronur Efendi, Hj Rowaini. Hj Rowaini ditemukan tewas dengan luka di tubuhnya di rumahnya di Dusun Dukuhan Glogok, Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng pada Jumat malam (3/1/2020).

Ibu mertua Sekkab Lamongan tersebut ditemukan tewas dalam keadaan masih mengenakan mukena dengan luka di bagian leher dan tangannya. Polisi bergerak cepat untuk mengungkap kasus ini. Tepat 40 hari setelah ditemukan meninggal, polisi berhasil mengamankan 2 orang tersangka pelaku. Kapolres Lamongan AKBP Harun pada Senin (10/2/2020) membenarkan jika polisi berhasil mengamankan 2 tersangka pelaku pembunuhan terhadap ibu mertua Sekkab Lamongan.

Dua tersangka yang berhasil diamankan polisi itu adalah Imam Winarto (37) warga Desa Tunjung Mekar, Kecamatan Kalitengah yang bertindak sebagai eksekutor dan Sunarto (44) warga Dusun Boyo Desa/Kecamatan Karanggeneng sebagai aktor intelektual. “Tertangkapnya 2 pelaku ini setelah polisi berhasil mengamankan penadah handphone korban dan dari keterangan pelapak diperoleh keterangan handphone tersebut dijual oleh seseorang dengan perawakan sedang, rambut lusuh dan usia sekitar 40 tahunan,” kata Kapolres Lamongan AKBP Harun kepada wartawan, Selasa (11/2/2020).

Sunarto (44) warga Desa/Kecamatan Karanggeneng yang tak lain adalah anak tiri korban dari suami kedua ini mengaku ia melakukan hal itu karena sakit hati dan dendam pada korban. “Saya dendam aja, dendam pribadi,” kata Sunarto saat ditanya wartawan di hadapan petugas kepolisian Lamongan, Selasa (11/2/2020).

Sunarto mengakui tega menghabisi nyawa Hj. Rowaini karena sakit hati. Hj. Rowaini yang pernah menjadi ibu tirinya itu. Sunarto mengaku sakit hari dengan Hj. Rowaini yang pernah menikah dengan ayah korban selama 11 tahun sebelum akhirnya cerai karena sering diolok oleh korban. Dari sini, Sunarto merencanakan menghabisi nyawa korban dan memanfaatkan Imam karena dianggap orang yang sudah memahami peta keseharian korban di rumah. “Saya butuh uang, karena hutang saya banyak,” kata Imam pada polisi ketika itu.

Di tengah pandemi global COVID-19, Polres Lamongan melimpahkan berkas perkara pembunuhan yang sempat menyita perhatian publik Lamongan itu pada Rabu (3/6/2020). Setelahnya, pada Kamis (18/6/2020) kasus ini memasuki sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan.

Dalam sidang putusan yang berlangsung secara virtual di Pengadilan Negeri Lamongan pada Kamis (10/9/2020), kedua terdakwa mendapat vonis yang berbeda. Sang aktor intelektual, Sunarto (44) divonis hukuman mati sedangkan sang eksekutor Imam Winarto divonis hukuman seumur hidup. “Vonis ini sesuai dengan tuntutan jaksa sebelumnya dimana terdakwa Sunarto divonis hukuman mati dan untuk Imam Winarto divonis seumur hidup,” kata Kasi Pidum Kejari Lamongan Irwan Safari ketika dihubungi detikcom, Kamis (10/9/2020).

Vonis hukuman mati PN Lamongan terhadap aktor intelektual pembunuhan Sunarto ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. Terdakwa Sunarto menyuruh Imam Winarto mengeksekusi rencana pembunuhan sedangkan Imam tetap dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup seperti tertuang dalam putusan PT Surabaya yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Rabu (2/12/2020).

Pria Banyuwangi Bunuh dan Bakar Teman Gegara Di-bully Gendut

Akhir Januari 2020, Kabupaten Banyuwangi digegerkan dengan penemuan jasad seorang perempuan yang gosong terbakar di kebun kelapa di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat. Wanita tersebut adalah Rosidah (20) warga Lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro Banyuwangi. Dia dibunuh dan dibakar oleh Ali Heri Sanjaya (27) warga Desa/Kecamatan Kalipuro, yang tak lain merupakan teman kerja korban di salah satu warung di Banyuwangi. Pelaku membunuh dan membakar korban karena sering di bully.

Pelaku ditangkap di sebuah hotel tempat persembunyiannya, Selasa (28/1/2020) sekitar pukul 05.00 WIB.

“Kita tangkap pelaku pembunuhan Rosidah. Atas nama Ali Heri Sanjaya saat keluar dari hotel. Kita tetapkan sebagai tersangka pembunuhan,” ujar Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifudin kepada detikcom di Mapolresta Banyuwangi.

Pelaku merupakan teman kerja korban di sebuah warung, di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Banyuwangi. Pelaku tega membunuh Rosidah karena dendam. Ia tidak terima sering olok-olok gendut atau kerap mendapatkan body shaming dari korban.

“Jadi pelaku ini teman kerja korban di salah satu rumah makan. Pelaku sering diolok-olok korban di depan banyak orang,” tambahnya.

“Selama bekerja korban sering menghina pelaku dengan kata-kata gendut, boboho, sumo, dan kesulitan ekonomi,” tambahnya.

Pelaku akhirnya merencanakan aksi pembunuhan tersebut. “Pelaku meminta korban mengantar pulang. Tapi ternyata hanya akal-akalan saja untuk mengelabui korban. Dibunuh kemudian dibakar mayatnya,” lanjutnya.

Mayat Rosidah ditemukan gosong terbakar di ladang kelapa di Dusun Kedawung, Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Jasad korban ditemukan terbakar lebih dari 75 persen hingga sulit dikenali. Dengan bantuan dari tim Laboratorium Forensik Dokpol Biddokkes Polda Jawa Timur, identitas korban terungkap. Ia warga Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Pembunuhan dan pembakaran Rosidah sudah direncanakan jauh-jauh Hari. Pelaku merupakan Ali Heri Sanjaya yang merupakan teman kerja korban.

“Pelaku merencanakan aksi pembunuhan seminggu sebelumnya. Hingga akhirnya Jumat tanggal (24/1), pelaku minta tolong kepada korban untuk diantar pulang. Selanjutnya pelaku membonceng korban dengan mengendarai sepeda BeAt merah milik korban,” ujar Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifudin.

Di tengah perjalanan, tambahnya, tersangka berpura-pura lelah dan meminta korban agar gantian memboncengnya. Setibanya di TKP, tersangka turun terlebih dahulu dan langsung memukul leher bagian kiri korban hingga terjatuh.

“Saat korban terjatuh inilah, pelaku langsung mencekik korban untuk memastikan korbannya mati. Ini terjadi sekitar pukul 18.30 WIB,” imbuhnya.

Untuk menghilangkan jejak, tersangka lantas membeli bensin untuk membakar mayat korban. “Usai membeli bensin, pelaku lantas kembali ke TKP dan langsung membopong jenazah korban ke tengah kebun,” sambungnya.

“Selanjutnya, jenazah korban ditumpuki ‘lanjaran’ atau bambu kecil dan menyiramnya dengan bensin. Kemudian pelaku langsung membakar dengan korek api miliknya,” tambahnya.

Tanpa rasa bersalah, tersangka langsung meninggalkan TKP dan membawa kabur sepeda motor milik korban. Tersangka kemudian bersembunyi.

Ali Heri Sanjaya (27), pelaku pembunuhan dan pembakaran Rosidah (17), mengaku menyesal telah melakukan pembunuhan. Meski menyesal, namun diraut wajahnya tak ada wajah murung setelah melakukan pembunuhan dan pembakaran itu. Dengan senyum, Ali Heri Sanjaya mengaku menyesal telah melakukan aksi keji itu.

“Ya menyesal (telah melakukan pembunuhan dan pembakaran jasad Rosidah). Tapi bagaimana lagi, ya sudah mati. Kalau waktu bisa diputar kembali, ya saya mau minta maaf dan ndak akan membunuh dia,” ujarnya.

Ali mengaku tak terlalu mengenal Rosidah. Ia diselimuti dendam terhadap Rosidah, yang selalu mengolok-olok dirinya dengan kata-kata gendut, Boboho, dan sumo. Ternyata Ali bukan pegawai di warung tempat Rosidah bekerja. Ali hanya ikut calon istrinya yang bekerja di sana.

“Saat saya mau minta minum ke warung selalu dikatain awas ada Boboho, gendut, dan sumo. Saya diam saja dan akhirnya tidak jadi ambil minum. Itu saya pendam sampai 12 hari lamanya,” imbuhnya.

Setelah persidangan panjang, akhirnya Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi memvonis terdakwa pembunuhan sekaligus pembakar mayat Rosidah (17) di Banyuwangi, Ali Heri Sanjaya (27) divonis hukuman mati. Keluarga korban yang menyaksikan sidang online itu histeris hingga pingsan.

Vonis hukuman mati ini dibacakan Saiful Arif, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banyuwangi.

“Menjatuhkan vonis hukuman mati kepada terdakwa Ali Heri Sanjaya, karena telah terbukti secara sah melakukan pembunuhan Rosidah dengan direncanakan,” kata Saiful, Selasa (1/9/2020).

Ali dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal dalam dakwaan primair pertama. Yakni Pasal 340 KUHP dan dakwaan primair kedua Pasal 362 KUHP. Keputusan hukuman mati tersebut diambil atas dasar pemberatan terhadap perbuatan terdakwa. Selain tidak menunjukkan rasa bersalah, terdakwa juga melakukan kejahatan dengan membunuh secara keji dan sadis.

Pembacaan vonis hukuman mati membuat keluarga korban histeris. Ibu korban, Susiama pingsan setelah pembunuh anak kandungnya itu divonis setimpal dengan perbuatannya.

“Nyawa dibayar nyawa. Harus mati,” ujar seseorang dari keluarga korban, berteriak di luar tempat persidangan.

Permohonan banding Ali Heri Sanjaya ditolak Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. Alhasil, pembunuh dan pembakar Rosidah (17) di Banyuwangi itu tetap dihukum mati sesuai tuntutan jaksa.

“Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Banyuwangi yang dimintakan banding tersebut,” ujar majelis yang diketuai Jack Johanis Octavianus dengan anggota Harry Sasongko dan I Gusti Lanang Putu Wirawan.
Putusan banding itu diketok pada Rabu (11/11). Majelis tinggi sependapat dengan pertimbangan PN Banyuwangi.

“Memerintahkan agar Terdakwa tetap ditahan. Membebankan biaya perkara dalam tingkat banding kepada Negara,” putus majelis.(dtc/bas)