Debat Pilkada Solo Panas, Nada Tinggi Gibran vs BaJo

104

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Debat Kedua Pilkada Kota Solo diwarnai retorika bernada tinggi antara pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dan Bagyo Wahyono-FX Supardjo (BaJo). Kedua paslon saling sindir terkait program masing-masing.

Pada awal debat, kedua paslon sebatas menyampaikan visi, misi, dan program mereka. Separuh waktu berjalan, dua pasangan kandidat mulai melancarkan serangan satu sama lain.

Pertarungan dimulai saat Bagyo mempertanyakan visi Gibran soal budaya. Calon perseorangan itu mencibir Gibran sebagai anak muda yang tak paham budaya.

“Mas Gibran, saya mau tanya jenengan (anda) masih muda, saya mau tanya budaya Kota Solo mau jenengan bawa ke mana? Budaya kultur Kota Solo kan, jenengan belum begitu tahu-tahu banget lah,” kata Bagyo pada Debat Kedua Pilkada Solo, Kamis (3/12).

Gibran tak tinggal diam. Ia langsung membalas serangan Bagyo. Gibran bercerita soal blusukan-nya ke lima kecamatan di Solo menemui para aktivis seni budaya.

Anak Presiden Joko Widodo itu mengklaim sudah menyerap aspirasi sejak dini. Gibran menyindir rencana BaJo yang baru akan menyerap aspirasi usai terpilih.

“Rembukannya sekarang, bukan setelah dilantik. Begitu dilantik, eksekusi. Memang banyak sekali kekurangan, kita sama-sama cari solusi, bukan saling menghina,” tandas Gibran.

Bagyo enggan mengendurkan serangan. Dengan nada meninggi, ia menolak dibilang menghina.

Bagyo hanya mempertanyakan nasib seni budaya Solo. Sebab menurutnya ia punya kenalan seniman ketoprak yang saat ini hidup luntang-lantung.
Lihat juga: Gibran Ingin Maksimalkan Tol Trans Jawa untuk Tarik Investor

Tak lama usai Bagyo selesai bicara, Gibran langsung mengambil mik dan bergegas maju. Namun ia ditegur moderator karena tak ada lagi sesi untuk menanggapi.

“Silakan kembali,” ucap moderator.

Debat berlanjut saat sesi pembahasan kebijakan pengendalian Covid-19. Gibran memberikan pertanyaan soal teknologi mutakhir apa yang akan BaJo gunakan dalam menghadapi pandemi.

Alih-alih menjawab, BaJo justru melancarkan serangan. Bagyo mempertanyakan peran Teguh yang saat ini menjabat Ketua DPRD Solo. Ia heran Teguh diam saja dengan kebijakan Pemkot Solo yang tidak pro rakyat.

“Kenapa di pasar tidak ada (bantuan pemkot menegakkan protokol kesehatan), tiba-tiba lockdown?” ucap Bagyo.

“Pasar itu manusia semua, jenengan harus ke situ, jangan di atas terus,” tuturnya.

Aksi saling sindir terus memanas hingga pengujung debat. Di sesi terakhir, Gibran mendalami program sungai bawah tanah yang ditawarkan BaJo.

Gibran mempertanyakan sumber dana yang akan digunakan BaJo. Ia juga mengkritik program itu tidak realistis.

“Perlu saya tekankan lagi, ini perlu kita lihat struktur tanah di Solo. Membangun sungai bawah tanah seperti Tokyo Giant Tunnel, di sana struktur tanahnya bebatuan. Padahal di sini struktur tanahnya rawa,” ucap Gibran.

Bagyo mengambil mik. Ia tak terima programnya dikritik. Penjahit baju itu meminta Gibran tak meremehkan kemampuan anak bangsa untuk mewujudkan sungai bawah tanah itu.

Ia bilang Bajo akan menggandeng para ahli yang ada di Solo. Mereka juga akan menyewa konsultan.

“Kita ada konsultan-konsultan, rembuk bareng dengan elemen-elemen yang ada di Kota Solo. Jangan diharap jenengan aja yang punya konsultan, Mas. kita punya juga, Mas, walau kita wong cilik,” ungkap Bagyo dengan nada meninggi.(cnn/bas)