Baru, Alat Tes Corona GeNose Rp 62 Juta/Unit, Buatan Anak Bangsa

56

Beritaindonesiasatu, Jakarta – Alat tes Corona (COVID-19) buatan anak bangsa GeNose dirilis sebanyak 3.000 unit pada bulan depan. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Produksi Konsorsium GeNose C19 Eko Fajar Prasetyo.

GeNose adalah alat deteksi virus Corona (COVID-19) lewat embusan napas yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM). Produk tersebut dalam waktu dekat bisa digunakan untuk tes virus Corona. Sabtu (16/1/2021)

“Untuk target Februari, kami sekarang sedang menghitung, kami target Februari 3.000 rilis Insyaallah,” kata dia dalam webinar.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Ristek/BRIN Ali Ghufron Mukti mengatakan GeNose dijual Rp 62 juta. “Kira-kira berapa harga jual alat ini? ini Rp 62 juta lah alatnya,” sebutnya.

Pada webinar tersebut, Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan alat tes Corona, GeNose kebanjiran order.

Order yang sudah diterima, dijelaskannya melebihi kapasitas produksi. Untuk itu dirinya meminta industri yang terlibat dalam produksi GeNose bisa meningkatkan kapasitasnya.

Ketua tim pengembang GeNose, Profesor Kuwat Triyana menerangkan saat ini sedang melakukan diskusi dengan beberapa perusahaan di sektor transportasi, yakni PT KAI (Persero) dan PT Angkasa Pura.

“Pada saat ini PT KAI maupun juga industri lain seperti Angkasa Pura dan sebagainya sudah mulai diskusi dan bahkan sudah sampai pada taraf untuk sinkronisasi sistem IT-nya,” kata dia dalam webinar.

Pada webinar tersebut, Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro memberi masukkan terkait hal di atas.

Menurutnya perlu dibuat suatu desain sistem GeNose untuk pemakaian di fasilitas tertentu, contohnya di bandara. Tujuannya agar penggunaan GeNose lebih efisien.

“Barangkali perlu semacam atau dibuat sistem supaya misalkan begitu seseorang mengembuskan napas dan keluar hasilnya itu langsung ter-record (terekam) misalnya ke HP (handphone) yang bersangkutan, sehingga memudahkan nanti kalau di airport, karena tentunya juga harus dihindari jangan sampai terjadi antrean panjang yang merepotkan di bandara,” paparnya.

Lanjut dia, pihak bandara perlu menyediakan alat deteksi virus Corona tersebut beberapa unit, tergantung dengan ramainya lalulintas orang di bandara.

“Mungkin juga bisa dibuat sistem kalau airport-nya misalkan traffic-nya sekian puluh ribu orang per hari maka sebaiknya supaya efektif GeNose-nya, berapa alatnya? apakah satu unit cukup? tapi barangkali yang lebih baik lebih dari satu supaya tidak terjadi antrean yang kembali lagi merepotkan,” jelasnya.

Sayangnya belum ada jawaban secara tegas bahwa hasil tes menggunakan GeNose nantinya bisa digunakan sebagai alternatif syarat perjalanan.

Seperti yang sudah-sudah, aturan mengenai syarat perjalanan dikeluarkan oleh Gugus Tugas COVID-19. Jadi, semua itu tergantung bagaimana keputusan Gugus Tugas nantinya. (dtc/bas)