9 Sekolah di Yogyakarta Gelar Uji Coba Belajar Tatap Muka

11

Beritaindonesiasatu.com, Yogyakarta – Kegiatan belajar mengajar di Yogyakarta sudah dimulai dengan simulasi sembilan sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tingkat SMA/SMK melaksanakan uji coba kegiatan belajar mengajar (KBM) atau kelas tatap muka hari ini, Senin (19/4).

Sembilan sekolah tersebut antara lain SMA N 1 Pajangan, Bantul; SMK N 1 Bantul; SMA N 1 Gamping, Sleman; SMK N 1 Depok, Sleman; SMA N 2 Playen, Gunungkidul; SMK N 1 Wonosari, Gunungkidul; SMA N 1 Sentolo, Kulon Progo; SMK N 2 Pengasih, Kulon Progo; SMK N 1 Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga DIY Didik Wardaya menuturkan, kesembilan sekolah itu ditunjuk untuk pelaksanaan KBM tatap muka karena faktor kesiapan gugus tugas Satgas Covid-19 di satuan pendidikan tersebut.

“Salah satu tugasnya mendata siswa yang sudah memungkinkan masuk sekolah atau siswa tinggal di daerah mana, sehingga terdata. Dan menjaga penerapan protokol kesehatan,” kata Didik yang ditemui saat meninjau pelaksanaan KBM tatap muka di SMK N 1 Depok, Sleman, Senin (19/4).

Faktor berikutnya, yakni kategori zonasi penyebaran Covid-19 tempat sekolah tersebut berada. Kemudian, fasilitasi kelengkapan pendukung protokol kesehatan (prokes) pencegahan penularan virus Corona.

“Ditambah lagi guru-guru sudah dilakukan vaksinasi dan kadar imunitas tentunya sudah terbentuk karena vaksinasi sudah 28 hari dari vaksinasi pertama,” papar Didik.

Uji coba ini, menurut Didik, dievaluasi sepekan atau maksimal dua pekan sekali untuk melihat indikator keberhasilan KBM tatap muka ini. Seperti baiknya penerapan prokes dan nihil kemunculan klaster penularan.

“Kalau memang muncul kasus di sekolah tentunya yang pertama adalah kepala sekolah akan menghentikan untuk sementara tatap muka tersebut. Sambil koordinasi dengan pusat kesehatan masyarakat yang terdekat dengan sekolah,” tegasnya.

Dilansir CNNIndonesia, Hasil evaluasi ini nantinya juga menjadi bahan pertimbangan menggelar KBM tatap muka untuk sekolah-sekolah sederajat maupun jenjang pendidikan di bawahnya.

“Dengan uji coba percontohan ini itu bisa terjadi adaptasi kebiasaan baru dengan penerapan protokol kesehatan bisa dilakukan anak-anak ketika berada di sekolah dan tentunya saat berada di luar,” imbuh Didik.

“Sehingga ke depan pada tahun ajaran baru itu bisa kita lakukan semua sekolah yang ada di DIY,” katanya.(bas)